IESR: Transisi Energi 2025 Jalan di Tempat

IESR: Transisi Energi 2025 Jalan di Tempat
ANTARA FOTO/Ahmad SubaidiSejumlah petugas memantau panel Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) on grid Sengkol kapasitas 7 megawatt peak (MWp) di Sengkol, Praya, Lombok Tengah, NTB, Kamis (16/10/2025).

Jakarta,sorotkabar.com — Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai transisi energi Indonesia sepanjang 2025 berjalan di tempat meski pemerintah melaporkan sejumlah capaian sektor energi.

 Ketergantungan pada energi fosil tetap tinggi, sementara dorongan terhadap energi terbarukan belum menunjukkan percepatan berarti.

IESR mencatat bauran energi terbarukan pada 2025 hanya mencapai 15,75 persen, naik tipis dari 14,65 persen pada tahun sebelumnya. Kapasitas terpasang kumulatif energi terbarukan berada di kisaran 7 GW dengan tambahan kapasitas sepanjang 2025 sekitar 1,3 GW. Angka ini dinilai terlalu kecil untuk negara sebesar Indonesia yang menargetkan dekarbonisasi dan penurunan emisi.

Chief Executive Officer IESR Fabby Tumiwa mengatakan, rendahnya penambahan kapasitas menunjukkan transisi energi belum menjadi prioritas nyata kebijakan. “Penambahan kapasitas energi terbarukan pada 2025 sangat minim dan tidak mencerminkan urgensi transisi energi yang dibutuhkan Indonesia,” kata Fabby, akhir pekan ini.

Ironisnya, pertumbuhan kapasitas energi terbarukan tidak ditopang proyek strategis pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN.

Kontribusi terbesar justru datang dari inisiatif masyarakat dan sektor swasta melalui pemasangan PLTS atap secara mandiri. “Penambahan kapasitas terbesar pada 2025, khususnya PLTS, sebagian besar ditopang oleh PLTS atap, sementara proyek energi terbarukan skala besar banyak meleset dari target,” kata Fabby.

IESR juga menyoroti revisi target bauran energi terbarukan dalam Kebijakan Energi Nasional dari 23 persen menjadi 17–19 persen pada 2025. Meski target diturunkan, realisasi tetap tidak mampu mencapai batas bawah target baru. Kondisi ini dinilai mempertegas lemahnya komitmen transisi energi di tingkat kebijakan.

Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap energi fosil masih tinggi. IESR mencatat target lifting minyak bumi terus diturunkan sejak 2020, sementara impor minyak mentah dan BBM masih berada di kisaran 1 juta barel per hari. Situasi ini dinilai memperbesar risiko terhadap ketahanan energi dan stabilitas devisa.

Di sisi investasi, realisasi investasi Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi pada 2025 mencapai 2,4 miliar dolar AS dan melampaui target 1,5 miliar dolar AS. Namun, IESR menilai capaian tersebut tidak mencerminkan akselerasi karena target investasi justru diturunkan dari tahun sebelumnya. Secara global, investasi energi bersih pada 2024 mencapai 2,1 triliun dolar AS dan jauh melampaui investasi energi fosil.

IESR menilai tanpa perubahan arah kebijakan yang tegas, transisi energi Indonesia berisiko tertinggal semakin jauh.

Berdasarkan Indonesia Energy Transition Outlook 2026, ambisi transisi energi berkorelasi langsung dengan pertumbuhan ekonomi dan penurunan emisi gas rumah kaca. “Tanpa target yang jelas, rencana aksi yang kredibel, dan implementasi yang konsisten, transisi energi hanya akan berhenti pada jargon,” kata Fabby.(*) 
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index