Malaysia Desak DK PBB Tegas Usai Serangan ke Pasukan UNIFIL

Minggu, 05 April 2026 | 20:47:15 WIB
Republika/Thoudy BadaiSejumlah prajurit TNI melakukan upacara pelepasan jenazah personel penjaga perdamaian yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) Kopda (Anm) Farizal Rhomadon usai disemayamkan di Terminal 3 Bandara Soekarno

Kuala Lumpur,sorotkabar.com -- Kementerian Luar Negeri Malaysia meminta Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) mengambil langkah tegas dalam menyikapi serangan yang berdampak pada kelompok penjaga perdamaian Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL).

"Malaysia mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengambil tindakan tegas, termasuk memastikan perlindungan segera bagi pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon Selatan," tulis pernyataan Kementerian Luar Negeri Malaysia atau Wisma Putra di Kuala Lumpur, Ahad (5/4/2026).

Malaysia dengan tegas mengecam serangan yang terus berlanjut terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL di Lebanon Selatan, yang telah mengakibatkan kematian dan cedera sejumlah personel PBB, termasuk insiden terbaru pada Jumat (3/4/2026) di El Addaiseh yang melukai tiga personel penjaga perdamaian asal Indonesia.

Malaysia menyatakan serangan-serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Pihak-pihak yang bertanggung jawab pun harus dimintai pertanggungjawaban.

"Kami menyerukan kepada semua pihak untuk memastikan keselamatan personel PBB serta menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kekebalan dan integritas misi-misi PBB," demikian keterangan Wisma Putra.

Sebelumnya, Pemerintah Malaysia menyampaikan belasungkawa atas gugurnya personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) di UNIFIL.

Malaysia menyatakan serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian UNIFIL itu merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional dan Resolusi DK PBB Nomor 1701.

Menteri Luar Negeri RI Sugiono, dalam keterangan terkini juga telah mendorong PBB untuk mengevaluasi secara menyeluruh terhadap aspek keselamatan pasukan penjaga perdamaian di berbagai wilayah penugasan, khususnya dalam misi UNIFIL di Lebanon.

Sugiono menegaskan hal tersebut menyusul gugurnya tiga prajurit TNI saat menjalankan tugas UNIFIL di Lebanon, yakni Mayor Inf Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, serta Kopda Anumerta Farizal Rhomadon.

Selain tiga personel gugur tersebut, Sugiono juga mengungkapkan terdapat tiga personel lainnya yang mengalami luka-luka. Pemerintah Indonesia pun menuntut jaminan keamanan bagi seluruh prajurit penjaga perdamaian, menyusul insiden serangan yang menewaskan tiga personel TNI di Lebanon.

"Harus ada satu garansi keamanan bagi prajurit-prajurit penjaga perdamaian karena mereka menjaga perdamaian. They are peacekeeping, not peacemaking," ujar Sugiono.(*)

Halaman :

Terkini