Selat Hormuz Dibuka, Harga BBM RI Belum Tentu Langsung Ikut Turun

Selat Hormuz Dibuka, Harga BBM RI Belum Tentu Langsung Ikut Turun
Petugas melayani pengisian bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax di SPBU Pertamina Jalan Veteran, Semarang, Jawa Tengah. (ANTARA/Aprillio Akbar)

Yogyakarta,sorotkabar.com - Selat Hormuz yang dibuka setelah meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah membawa sentimen positif bagi pasar energi global. Namun, kondisi tersebut belum tentu langsung diikuti penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Dyah Titis Kusuma Wardani mengatakan, normalnya kembali jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak mentah dunia memang mengurangi ketidakpastian pasokan energi global.

Namun, dampaknya lebih besar dalam menjaga stabilitas harga dibandingkan mendorong penurunan harga minyak secara drastis.

"Pembukaan kembali Selat Hormuz memberikan sentimen positif dan menurunkan risk premium geopolitik di pasar minyak dunia. Namun, harga minyak tidak otomatis turun drastis karena pasar masih mempertimbangkan faktor lain, seperti produksi OPEC+, permintaan dari Tiongkok dan Amerika Serikat, serta kondisi stok minyak global," ujar Dyah, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, anggapan bahwa dibukanya kembali Selat Hormuz akan langsung membuat harga BBM di Indonesia turun merupakan persepsi yang kurang tepat. Sebab, penentuan harga BBM nasional dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga minyak mentah dunia, rata-rata Indonesian Crude Price (ICP), nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya pengadaan dan distribusi, hingga kontrak pembelian minyak yang telah berjalan.

"Harga BBM tidak ditentukan hanya oleh satu peristiwa dalam satu hari. Dibukanya Selat Hormuz memang mengurangi tekanan terhadap harga minyak dunia, tetapi tidak serta-merta membuat harga BBM langsung turun keesokan harinya," katanya.

Dyah menjelaskan dampak perubahan harga minyak dunia juga berbeda antara BBM subsidi dan nonsubsidi. Untuk BBM nonsubsidi seperti Pertamax, penyesuaian harga cenderung lebih cepat mengikuti mekanisme pasar. Sementara itu, BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar masih dipengaruhi kebijakan subsidi serta kompensasi pemerintah.

"Ketika harga minyak dunia naik, pemerintah menahan dampaknya melalui subsidi sehingga beban fiskal negara meningkat. Sebaliknya, jika harga minyak turun, ruang fiskal pemerintah menjadi lebih longgar. Jadi, masyarakat tidak langsung merasakan seluruh fluktuasi harga minyak dunia karena ada intervensi pemerintah," paparnya.

Selain perkembangan geopolitik, nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penting yang memengaruhi harga BBM domestik. Pelemahan rupiah dapat mengurangi manfaat dari turunnya harga minyak dunia karena sebagian besar transaksi impor minyak menggunakan dolar AS.

Dyah menambahkan, kebijakan produksi OPEC+, permintaan minyak global, biaya logistik, margin distribusi, serta kemampuan fiskal pemerintah juga menjadi faktor yang memengaruhi harga BBM di dalam negeri.

"Semua faktor tersebut saling berkaitan. Karena itu, harga BBM domestik tidak hanya bergantung pada perkembangan di satu kawasan seperti Timur Tengah," jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa dampak perubahan harga minyak dunia terhadap perekonomian tidak terjadi secara instan. Penyesuaian harga BBM nonsubsidi umumnya dilakukan setiap bulan, sedangkan sektor transportasi, logistik, dan industri baru merasakan dampaknya dalam satu hingga tiga bulan karena masih menggunakan stok maupun kontrak pembelian sebelumnya.

Menghadapi dinamika pasar energi global, Dyah mengimbau masyarakat tidak mudah terpengaruh isu jangka pendek mengenai perubahan harga BBM.

"Bagi masyarakat, yang terpenting adalah tetap bijak dalam menggunakan energi dan tidak panik terhadap perkembangan sesaat. Efisiensi konsumsi energi tetap menjadi langkah terbaik," ujarnya.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index