London,sorotkabar.com – Penelitian terbaru ilmuwan University of Vienna dan ETH Zurich menunjukkan perubahan iklim mulai memengaruhi rotasi bumi akibat pencairan lapisan es di kutub. Perubahan distribusi massa planet disebut memperlambat putaran bumi pada tingkat yang belum pernah terjadi dalam 3,6 juta tahun terakhir.
Dalam studi tersebut, para peneliti menemukan panjang satu hari kini bertambah sekitar 1,33 milidetik per abad. Meski nyaris tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari, ilmuwan menilai perubahan itu menunjukkan dampak besar aktivitas manusia terhadap sistem planet.
“Pengaruh manusia terhadap sistem bumi kini begitu mendalam sehingga kita mengubah cara bumi berputar,” kata salah satu penulis studi, Profesor Benedikt Soja, dikutip dari BBC Science Focus, Senin (25/5/2026).
Fenomena itu terjadi ketika es di Greenland, Antarktika, dan wilayah kutub lain mencair akibat pemanasan global. Air dari lapisan es kemudian mengalir ke lautan dan menyebar menuju wilayah khatulistiwa sehingga mengubah distribusi massa bumi.
Perubahan tersebut membuat rotasi bumi melambat, serupa dengan atlet seluncur es yang memperlambat putaran tubuh saat merentangkan tangan.
Sebelumnya, rotasi bumi diketahui dipengaruhi gravitasi Bulan, dinamika inti bumi, dan perubahan atmosfer. Namun, penelitian terbaru menunjukkan perubahan iklim kini menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi putaran planet.
Para peneliti memperkirakan pengaruh perubahan iklim terhadap rotasi bumi bahkan dapat melampaui efek gravitasi Bulan pada akhir abad ini apabila emisi gas rumah kaca terus meningkat.
Untuk merekonstruksi perubahan rotasi bumi sejak jutaan tahun lalu, ilmuwan menggunakan fosil organisme laut mikroskopis bernama benthic foraminifera. Kandungan kimia dalam cangkang organisme tersebut menyimpan jejak perubahan permukaan laut purba.
Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan algoritma pembelajaran mesin untuk menghitung perubahan panjang hari sejak era Pliosen Akhir sekitar 3,6 juta tahun lalu.
Dari seluruh periode yang diteliti, kondisi saat ini menjadi salah satu anomali paling menonjol. Menurut Soja, perubahan panjang hari seperti sekarang membutuhkan perpindahan massa dalam jumlah sangat besar.
“Perubahan panjang hari seperti ini memerlukan redistribusi massa sekitar 1.000 gigaton dari kutub ke lautan, untuk membayangkannya, itu seperti sebuah kubus es setinggi 10 kilometer ditempatkan di atas Kota New York, lebih tinggi dari Gunung Everest,” katanya.
Ilmuwan lain yang terlibat dalam penelitian tersebut, Mostafa Kiani Shahvandi, mengatakan energi yang terlibat dalam perubahan rotasi bumi setara dengan gempa berkekuatan magnitudo 9.
Para peneliti juga menemukan periode sekitar dua juta tahun lalu ketika laju perubahan rotasi hampir mendekati kondisi saat ini. Kala itu, pencairan es besar-besaran dipicu lonjakan alami karbon dioksida dan ketidakstabilan lapisan es kutub.
Namun, mereka menilai kondisi tersebut sangat jarang terjadi secara alami. Kini, aktivitas manusia dinilai menghasilkan dampak serupa hanya dalam waktu sedikit lebih dari satu abad.
Selain memengaruhi rotasi bumi, pencairan es kutub juga berkaitan dengan kenaikan permukaan laut dan meningkatnya cuaca ekstrem. Peneliti menilai perubahan kecil dalam panjang hari tetap penting bagi sistem navigasi presisi tinggi seperti GPS dan navigasi wahana antariksa.(*)