Jakarta,sorotkabar.com - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat memberikan tekanan besar terhadap berbagai sektor industri nasional, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot exchange pada Jumat (15/5/2026) melemah 67 poin atau 0,39% ke level Rp 17.596 per dolar AS.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, mengatakan depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan biaya impor bahan baku yang selama ini menjadi tulang punggung industri manufaktur nasional.
"70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi. Dengan demikian, depresiasi rupiah langsung tercermin dalam peningkatan biaya," ungkap Shinta kepada Beritasatu.com, Jumat (15/5/2026).
Menurut Shinta, dampak pelemahan rupiah dirasakan cukup cepat, terutama oleh sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.
Beberapa sektor yang dinilai paling rentan antara lain industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi. Industri-industri tersebut dinilai sangat sensitif terhadap fluktuasi kurs karena sebagian besar kebutuhan bahan bakunya masih berasal dari luar negeri.
Salah satu dampak paling nyata terlihat pada industri plastik. Kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen dan berdampak berantai ke berbagai sektor lain, terutama industri kemasan dan sektor hilir yang menggunakan produk plastik dalam proses produksi.
Shinta menilai kondisi ini menunjukkan adanya tekanan inflasi dari sisi biaya produksi (cost-push inflation). Dampaknya tidak hanya dirasakan satu sektor, tetapi mulai menjalar ke berbagai rantai pasok industri nasional.(*)