Piala Dunia 2026 Dibayangi Ancaman Terorisme

Piala Dunia 2026 Dibayangi Ancaman Terorisme
Ilustrasi trofi Piala Dunia. (Beritasatu.com/ChatGPT)

Washington DC,sorotkabar.com - Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko menghadapi sorotan serius terkait ancaman keamanan. Sejumlah pakar kontraterorisme memperingatkan potensi serangan meningkat di tengah memanasnya hubungan Amerika Serikat dengan Iran serta berkurangnya sumber daya penanganan terorisme di lembaga penegak hukum federal.

Para analis keamanan menilai ancaman terbesar justru berasal dari pelaku ekstremis domestik atau lone wolf, yakni individu yang bergerak sendiri setelah terpapar radikalisme melalui internet, baik dari kelompok ekstrem politik maupun jaringan jihad seperti ISIS.

Mantan pejabat keamanan nasional Amerika Serikat sekaligus profesor Universitas Michigan, Javed Ali, mengatakan pengamanan Piala Dunia 2026 jauh lebih kompleks dibanding ajang olahraga lain karena pertandingan berlangsung di banyak kota dan negara.

“Kami tidak hanya harus melindungi stadion, tetapi juga seluruh rantai pendukung menuju pertandingan. Ada begitu banyak laga dan ancaman, sementara sumber daya keamanan tetap terbatas,” ujar Ali dikutip dari The Guardian, Senin (11/5/2026).

Sebagai bagian dari persiapan menuju turnamen, Federal Bureau of Investigation (FBI) pada Maret 2026 lalu menggelar simulasi besar penanganan ancaman domestik dengan melibatkan agen dari berbagai wilayah Amerika Serikat.

Salah seorang aparat federal yang mengikuti latihan tersebut mengaku banyak peserta terkejut dengan besarnya kebutuhan pengamanan.

“Banyak yang khawatir karena ada begitu banyak hal yang harus diantisipasi. Sangat sulit mengendalikan situasi dengan banyaknya lokasi pertandingan dan lokasi nonton bareng di seluruh Amerika Serikat,” ujarnya.

Piala Dunia 2026 akan berlangsung selama enam pekan dengan total 104 pertandingan di tiga negara. Amerika Serikat menjadi tuan rumah mayoritas pertandingan dengan 78 laga yang tersebar di sejumlah kota besar, seperti Atlanta, Boston, Dallas, Houston, Los Angeles, Miami, Philadelphia, Seattle, hingga New Jersey.

Pemerintah Amerika Serikat menetapkan laga final di Stadion MetLife, East Rutherford, sebagai national special security event (NSSE). Status tersebut membuat pengamanan berada langsung di bawah koordinasi Dinas Rahasia Amerika Serikat dengan dukungan FBI dan Federal Emergency Management Agency (FEMA).

Pengamanan mencakup pembatasan wilayah udara, pemeriksaan ketat penonton, sistem anti-drone, hingga pemantauan kontraterorisme berlapis antara pemerintah federal, negara bagian, dan aparat lokal.

Namun, para pakar menilai ancaman terbesar justru berada di luar stadion atau soft target seperti hotel, pusat transportasi, kawasan wisata, dan lokasi nonton bareng yang diperkirakan dipadati jutaan orang selama turnamen berlangsung.

Direktur riset Soufan Group, Colin Clarke, mengatakan penggunaan drone menjadi salah satu ancaman baru yang perlu diwaspadai.

“Kerumunan besar di luar stadion tetap rentan. Drone kini mudah diperoleh dan dioperasikan, termasuk oleh kelompok nonnegara atau jaringan teroris,” katanya.

Selain ancaman teknologi, koordinasi antarinstansi keamanan juga dinilai menjadi titik rawan. Mantan agen CIA dan FBI, Tracy Walder, menyebut kegagalan komunikasi antarinstansi sering menjadi celah utama keamanan.

“Kelemahan terbesar biasanya muncul ketika FBI, Homeland Security, dan aparat lokal gagal berbagi informasi dengan baik,” ujar Walder.

Ia mencontohkan penyerangan Gedung Capitol pada 6 Januari 2021 dan percobaan pembunuhan terhadap Donald Trump di Pennsylvania sebagai contoh lemahnya koordinasi keamanan.

Geopolitik Tak Menentu
Situasi geopolitik juga memperbesar kekhawatiran. Salah satu laga yang menjadi sorotan adalah potensi pertandingan Amerika Serikat melawan Iran di Texas pada 3 Juli 2026 yang berdekatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan AS.

Kehadiran keluarga kerajaan Arab Saudi yang disebut telah memesan satu hotel penuh di Houston selama turnamen turut meningkatkan sensitivitas keamanan mengingat rivalitas panjang Iran dan Arab Saudi.

Meski demikian, sebagian pakar menilai ancaman “sel tidur” Iran di Amerika Serikat tidak sebesar yang dikhawatirkan.

“Iran tidak memiliki jaringan besar di sini untuk melakukan serangan besar secara langsung,” kata Ali.

Menurut dia, Iran lebih sering menggunakan jaringan kriminal sebagai perantara untuk menjalankan operasi tertentu.

Para pakar juga mengingatkan ancaman paling sulit dideteksi tetap berasal dari pelaku tunggal yang bergerak spontan setelah terpapar ideologi ekstrem.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index