Kapal Tanker Raksasa Iran Tembus Blokade AS Bawa Minyak Rp 3,52 T

Kapal Tanker Raksasa Iran Tembus Blokade AS Bawa Minyak Rp 3,52 T
Ilustrasi kapal pengangkut LPG. (AI)

Teheran,sorotkabar.com – Sebuah kapal tanker raksasa milik Iran dilaporkan berhasil menembus blokade Amerika Serikat (AS) dan melanjutkan pelayaran menuju kawasan Asia Pasifik dengan membawa muatan minyak mentah bernilai sekitar US$ 220 juta (sekitar Rp 3,52 triliun).

Berdasarkan laporan lembaga pemantau TankerTrackers.com, kapal jenis very large crude carrier (VLCC) tersebut mengangkut lebih dari 1,9 juta barel minyak mentah. Kapal yang diidentifikasi bernama HUGE itu terakhir terpantau di perairan sekitar Sri Lanka sebelum melanjutkan perjalanan.

Saat ini, kapal tersebut dilaporkan melintasi Selat Lombok, Indonesia, menuju wilayah Kepulauan Riau.

TankerTrackers.com menyebut kapal tersebut berada di perairan Iran pada 13 April 2026, bertepatan dengan pengumuman blokade oleh Angkatan Laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kapal itu juga tidak lagi memancarkan sinyal automatic identification system (AIS) sejak 20 Maret 2026 saat berlayar dari Selat Malaka menuju Iran.

Laporan ini muncul setelah media pemerintah Iran menyatakan setidaknya 52 kapal Iran berhasil menembus blokade. Di sisi lain, militer AS mengklaim telah memaksa sekitar 41 kapal yang terkait Iran untuk berbalik arah sejak kebijakan tersebut diberlakukan.

Pemerintah AS menilai blokade tersebut efektif menekan ekspor minyak Iran dan mengurangi pendapatan negara tersebut hingga miliaran dolar AS. Washington juga menyebut Iran berpotensi menghadapi keterbatasan kapasitas penyimpanan jika tidak dapat mengekspor minyaknya.

Namun, sejumlah pengamat menilai kebijakan tersebut justru berdampak sebaliknya. Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft, Trita Parsi, menilai blokade tersebut memperburuk situasi dan menghambat jalur diplomasi.

Menurutnya, negosiasi sebenarnya dapat terus berjalan tanpa perlu langkah blokade. Ia juga menilai kebijakan tersebut justru mempersempit ruang dialog antara kedua pihak.

Parsi menambahkan, keputusan blokade telah mengurangi pasokan minyak di pasar global, sehingga mendorong kenaikan harga energi. Bahkan, harga minyak disebut lebih tinggi saat masa gencatan senjata dibandingkan saat konflik berlangsung.

Kondisi ini menunjukkan dinamika geopolitik yang semakin kompleks, di mana kebijakan tekanan ekonomi tidak selalu menghasilkan dampak sesuai yang diharapkan, khususnya dalam menjaga stabilitas pasar energi global.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index