Cikarang Pusat,sorotkabar.com - Di bawah terik siang, segelas es teh manis racikan biasanya jadi pelipur dahaga paling sederhana. Dingin, manis, dan murah. Namun belakangan, ada yang berubah diam-diam, bukan rasanya, melainkan isinya.
Kenaikan harga plastik mulai berdampak pada pelaku usaha kecil. Pedagang minuman seperti es teh manis kini terpaksa mengurangi takaran demi menjaga harga tetap terjangkau.
Di lapak sederhana milik Ipoy, perubahan itu terlihat pada isi gelas plastik. Sekilas tampak sama, namun volumenya tak lagi penuh seperti sebelumnya. Langkah ini diambil setelah harga cup plastik melonjak dalam beberapa pekan terakhir.
Ipoy mengatakan, dalam tiga minggu terakhir harga cup plastik ukuran besar naik dari Rp 11.000 menjadi Rp 13.500 per bungkus berisi 50 buah.
“Naiknya lumayan, Rp 2.500. Jadi mau tidak mau saya kurangi sedikit isi minumannya,” ujar Ipoy saat ditemui, Sabtu (25/4/2026).
Bagi pelaku usaha mikro, menaikkan harga bukan pilihan mudah. Setelah Lebaran, daya beli masyarakat cenderung melemah. Ipoy memilih mempertahankan harga agar tetap ramah di kantong pembeli, meski harus menekan keuntungan.
Saat ini, es teh yang ia jual masih dibanderol Rp 5.000 untuk ukuran jumbo dan Rp 3.000 untuk ukuran kecil. Namun, biaya produksi yang meningkat membuat margin keuntungan semakin tipis.
Dampak kenaikan harga bahan baku juga mulai terasa pada omzet harian. Jika sebelumnya ia mampu meraup Rp 600.000 hingga Rp 800.000 per hari, kini pendapatan tersebut perlahan menurun.
“Sekarang pembeli agak sepi, sementara modal naik. Jadi keuntungan semakin tipis,” katanya.
Kondisi ini dialami banyak pelaku UMKM lainnya. Mereka dihadapkan pada dilema antara menjaga harga jual tetap stabil atau mempertahankan keuntungan usaha.
Ipoy berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga bahan baku agar pelaku usaha kecil tidak semakin tertekan.
“Harapannya pemerintah bisa lihat kondisi di bawah. Soalnya kami yang paling terasa kalau harga-harga naik,” pungkasnya.(*)