Pekanbaru,sorotkabar.com – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah kini membawa ancaman serius bagi stabilitas ekonomi nasional. Ketegangan yang melibatkan negara seperti Iran dan Israel secara langsung memicu gejolak pasar global yang merembet hingga ke dalam negeri.
Anggota DPR RI, Syahrul Aidi, memaparkan bahwa dampak paling nyata dari perang tersebut adalah melambungnya harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di pasar internasional. Kenaikan harga energi ini otomatis memicu laju inflasi yang menekan kekuatan perekonomian domestik.
"Kondisi ekonomi makro kita saat ini sangat terpengaruh oleh isu global, konflik bersenjata ini langsung berimbas pada harga minyak dunia yang akhirnya memukul perekonomian kita," jelas Syahrul saat silaturahmi dengan insan pers Riau di Wareh Kupi, Arifin Achmad, Pekanbaru, Kamis (23/4/2026).
Selain dampak ekonomi, Syahrul juga menyoroti fenomena polarisasi politik internasional yang kian tajam. Ia menyebutkan adanya pergeseran poros kekuatan dunia, dimana negara seperti Amerika Serikat (AS), Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain menunjukkan peta keberpihakan spesifik dalam menyikapi konflik tersebut.
Meski demikian, disrupsi informasi melalui platform media digital telah mengubah peta opini publik, terutama di negara-negara Barat. Akses informasi yang tidak lagi dimonopoli secara mutlak membuat simpati publik internasional terhadap krisis kemanusiaan semakin menguat.
"Terjadi pergeseran opini publik yang luar biasa di Amerika Serikat, di mana 60 persen anak muda kini justru menganggap Israel sebagai pihak teroris berkat keterbukaan informasi di media sosial," urainya.
Menyikapi krisis kemanusiaan yang terus memburuk, Syahrul menegaskan pentingnya strategi politik luar negeri Indonesia. Sikap negara yang konsisten mendukung kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara atau two state solution dinilai sebagai langkah diplomasi yang paling taktis dan realistis di tengah kebuntuan internasional.
Dukungan terhadap solusi dua negara tersebut merupakan strategi pragmatis untuk memastikan jalur bantuan dunia terbuka lebar. Hal ini menjadi satu-satunya celah diplomasi legal yang memungkinkan pasokan logistik dan bantuan medis bisa segera menembus masuk guna menyelamatkan jutaan warga sipil yang terjebak di wilayah Gaza.(*)