Gejolak Selat Hormuz Picu Kuwait Kurangi Produksi Minyak

Gejolak Selat Hormuz Picu Kuwait Kurangi Produksi Minyak
Kapal tanker Suezmax Shenlong berbendera Liberia terlihat di Pelabuhan Mumbai, India, pada 12 Maret 2026, setelah berlayar melalui Selat Hormuz dari pelabuhan Ras Tanura di Arab Saudi. (ANTARA/?mtiyaz Shaikh/Anadolu/pri.)

ISTANBUL, sorotkabar.com - Kuwait Petroleum Corporation pada Selasa mengatakan bahwa mereka telah mengurangi produksi minyak mentah menyusul gangguan pengiriman di Selat Hormuz.

"Kami terpaksa memangkas produksi karena ketidakamanan rute pelayaran di jalur perairan strategis tersebut, situasi ini merupakan eskalasi serius yang mengancam stabilitas pasar energi global," menurut pernyataan perusahaan.

Perusahaan juga memastikan bahwa produksi dapat dilanjutkan “dengan relatif cepat” jika perang Iran berakhir dan dapat mencapai produksi penuh dalam waktu 3-4 bulan, namun tidak mengungkapkan tingkat produksi baru.

Pada 10 Maret, Kuwait memangkas produksi minyaknya menjadi sekitar 500.000 barel per hari, turun tajam dari lebih dari 3 juta barel per hari sebelum pecahnya perang AS-Iran.

Menyusul serangan AS dan Israel terhadap Iran, Selat Hormuz mengalami gangguan pelayaran sejak awal Maret. Jalur tersebut telah menjadi pelayaran strategis bagi sekitar 20 juta barel minyak setiap hari, dan gangguan yang terjadi telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global melonjak tinggi.

Eskalasi regional terus berkobar sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari, yang sejauh ini menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ali Khamenei.

Teheran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, serta Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah aset militer AS, sehingga menimbulkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur sekaligus mengganggu pasar dan penerbangan global.(*)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index