Teheran,sorotkabar.com – Ketangguhan pesawat tempur siluman F-35 milik Amerika Serikat kini menjadi sorotan.
Iran dikabarkan berhasil menggunakan sistem pertahanan udara Majid (AD-08) dengan sensor pencitraan termal untuk merusak jet tempur generasi kelima tersebut, hingga memaksanya melakukan pendaratan darurat.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) merilis video sensor inframerah pada Jumat (20/3/2026) yang memperlihatkan sebuah drone melacak pesawat menyerupai F-35. Beberapa detik kemudian, sebuah proyektil meledak di dekat target. IRGC mengeklaim jet tempur AS tersebut "terkena dan rusak parah," meski detail jenis senjata tidak diungkapkan secara eksplisit.
Mengutip laporan CNN, dua sumber internal menyebutkan bahwa satu unit F-35 harus melakukan pendaratan darurat di sebuah pangkalan udara di Timur Tengah setelah diduga terkena tembakan dari wilayah Iran.
Juru bicara Komando Pusat (Centcom), Kolonel Tim Hawkins, mengonfirmasi insiden tersebut. "Pesawat tempur F-35A Angkatan Udara AS melakukan pendaratan darurat saat menjalankan misi tempur di atas Iran. Pesawat mendarat dengan selamat dan pilot dalam kondisi stabil. Insiden ini sedang diselidiki," jelasnya.
Majalah militer Military Watch melaporkan bahwa sistem Majid adalah kunci di balik serangan ini. Produk Departemen Industri Pertahanan Iran ini merupakan sistem pertahanan udara jarak pendek yang dirancang untuk mencegat UAV, rudal jelajah, hingga jet tempur yang terbang rendah.
Berbeda dengan sistem berbasis radar konvensional, Majid mengandalkan sensor elektro-optik dan pencitraan termal. "Sensor Majid dapat melacak empat objek secara simultan pada jarak hingga 15 km. Jika dipadukan dengan radar Kashef-99, jangkauan deteksinya meningkat hingga 30 km," tulis laporan Army Recognition.
Keunggulan Teknologi Termal Iran:
Anti-Siluman: Sensor termal melacak panas mesin, bukan pantulan radar, sehingga teknologi stealth pesawat tidak efektif sepenuhnya.
Senyap: Tidak memancarkan sinyal radio, sehingga tidak memicu peringatan dini (warning system) pada kokpit pesawat target.
Anti-Jamming: Kebal terhadap tindakan peperangan elektronik (electronic warfare) yang biasanya mengacaukan frekuensi radar.
Selain sistem Majid, pakar militer juga mencurigai keterlibatan rudal antipesawat portabel (MANPADS) 9K333 Verba buatan Rusia. Iran diyakini telah memiliki ratusan peluncur rudal ini. Verba menggunakan pencari optik multispektral yang mampu membedakan target asli dari umpan (decoy) seperti lampu inframerah atau pemancar laser.
Pakar militer dari War Zone, Thomas Newdick dan Howard Altman, memperingatkan bahwa sistem pertahanan udara bergerak Iran kini menjadi ancaman nyata yang sulit dideteksi. "Sistem ini dapat muncul di mana saja, memberikan pilot waktu reaksi yang sangat sempit, bahkan untuk pesawat secanggih F-35," ungkap mereka.
Hingga saat ini, meski AS dan Israel belum melaporkan kehilangan jet berawak secara total, unit pertahanan udara Iran tercatat telah menembak jatuh sedikitnya 11 drone MQ-9 Reaper dan sejumlah pesawat nirawak canggih lainnya di wilayah udara mereka.(*)