Jakarta,sorotkabar.com — Volume sampah plastik di Indonesia diperkirakan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan. Proyeksi World Bank menunjukkan timbulan plastik nasional pada 2025 dapat mencapai 9,9 hingga 12,4 juta ton per tahun atau sekitar 13,98 persen dari total sampah.
Kondisi tersebut mendorong pelaku industri mempercepat strategi pengurangan plastik, terutama melalui inovasi kemasan dan penguatan sistem pengelolaan sampah. Langkah ini juga berkaitan dengan target nasional pengurangan sampah plastik hingga 30 persen pada 2029–2030.
Grup Ajinomoto Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang mengintegrasikan strategi tersebut melalui konsep Ajinomoto Health Provider. Program ini menggabungkan inovasi kemasan, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, serta edukasi lingkungan.
Perusahaan memperkenalkan sejumlah inovasi kemasan untuk menekan penggunaan plastik. Sejak 2020 Ajinomoto menerapkan penggunaan kemasan mono-material, pemanfaatan material daur ulang, serta pengurangan ketebalan kemasan pada sejumlah produk.
Ajinomoto juga menjalankan inovasi kemasan yang mengganti sebagian material plastik dengan kertas. Inovasi ini disebut mampu menurunkan penggunaan plastik hingga 30 persen pada kemasan produk MSG.
Pada produk lain seperti Masako, penerapan gerakan “No Inner Plastic” serta pengurangan header part disebut menghemat penggunaan plastik hingga 8,4 persen. Sementara, inovasi kemasan Sajiku berbahan mono-material menghasilkan efisiensi penggunaan plastik sekitar 9,5 persen per kemasan.
“Untuk mempersiapkan Indonesia yang lebih baik, kami terus memperluas dampak Ajinomoto Health Provider tidak hanya melalui edukasi mengenai gizi seimbang, tetapi juga melalui pembentukan kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih bijak dan bertanggung jawab,” kata Grant Senjaya, Head of Corporate Communication PT Ajinomoto Indonesia, Kamis (12/3/2026).
Secara keseluruhan, perusahaan mencatat pengurangan penggunaan plastik mencapai 1.736 ton sepanjang 2025. Langkah tersebut diklaim mendukung kebijakan pengurangan sampah plastik sesuai regulasi Kementerian Lingkungan Hidup yang menargetkan pengurangan plastik hingga 30 persen pada 2029–2030.
Selain inovasi kemasan, perusahaan juga memperluas kerja sama pengelolaan sampah dengan berbagai pihak. Ajinomoto bekerja sama dengan startup pengelola sampah Rekosistem melalui penyediaan fasilitas waste station yang beroperasi di Surabaya dan Mojokerto.
Ajinomoto juga bermitra dengan sejumlah bank sampah seperti Bank Sampah Gunung Emas di Jakarta Timur, Bank Sampah Induk Patriot Bekasi, serta jaringan bank sampah di Karawang, Mojokerto, dan Surabaya. Kolaborasi ini juga melibatkan fasilitas TPS 3R di Karawang dan Mojokerto untuk memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Perusahaan mencatat total penanganan sampah mencapai 352 ton sepanjang 2025 melalui berbagai fasilitas tersebut. Pada sejumlah komunitas, aktivitas pengumpulan sampah juga membuka peluang ekonomi melalui skema pengelolaan sampah.
Program edukasi lingkungan juga dijalankan melalui inisiatif Berseri (Bersih dan Sehatkan Negeri) dan Greenducation. Program ini berfokus pada pengumpulan sampah plastik multilapis serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam memilah sampah.
Program Greenducation dijalankan di Jakarta Timur, Bekasi, dan Karawang dengan melibatkan komunitas, sekolah, serta pelaku usaha kecil seperti warung makan.
Selama satu tahun pelaksanaan, program ini mengedukasi sekitar 2.400 peserta mengenai pentingnya pemilahan sampah.
Program tersebut juga menyediakan fasilitas drop box bagi mitra warteg, warung, dan pelaku usaha kecil agar dapat mengumpulkan kemasan produk yang kemudian dikelola kembali dalam sistem daur ulang.(*)