Studi Terbaru Ungkap Suhu Bumi Naik Lebih Cepat dari Perkiraan

Studi Terbaru Ungkap Suhu Bumi Naik Lebih Cepat dari Perkiraan
Republika/Putra M. AkbarPenelitian terbaru mengungkapkan bahwa suhu bumi naik lebih cepat dari perkiraan.

Berlin, sorotkabar. com — Penelitian terbaru menunjukkan laju pemanasan global meningkat tajam dalam satu dekade terakhir. Analisis ilmiah menemukan tren kenaikan suhu bumi sejak 2015 jauh lebih cepat dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.

Studi yang dilakukan ilmuwan dari Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) menunjukkan, setelah menghilangkan pengaruh variabilitas alam terhadap suhu global, tren pemanasan global melonjak signifikan secara statistik sejak 2015. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Geophysical Research Letters.

Para peneliti memperkirakan rata-rata pemanasan global dalam 10 tahun terakhir mencapai sekitar 0,35 derajat Celsius per dekade. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan periode 1970 hingga 2015 yang rata-rata sekitar 0,2 derajat Celsius per dekade. Temuan tersebut menjadi yang tertinggi sejak pencatatan suhu global modern dimulai pada 1880.

“Kini kita bisa menunjukkan secara statistik betapa kuat dan signifikan percepatan pemanasan global terjadi sejak 2015,” kata pakar statistik sekaligus salah satu penulis studi Grant Foster seperti dikutip dari laman Phys.org, Senin (9/3/2025).

Foster dan timnya menyaring pengaruh fenomena alam dari data observasi untuk mengurangi apa yang mereka sebut sebagai “noise”. Langkah ini bertujuan memperjelas tren pemanasan global jangka panjang yang terutama dipicu aktivitas manusia.

Fenomena alam jangka pendek seperti El Niño, erupsi gunung berapi, serta siklus aktivitas Matahari kerap menyebabkan fluktuasi suhu yang dapat menutupi tren pemanasan global sebenarnya.

Dalam penelitian ini, tim PIK bekerja sama dengan lima lembaga utama yang memantau suhu global, yakni NASA (National Aeronautics and Space Administration), NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), HadCRUT (Hadley Centre/Climatic Research Unit Temperature), Berkeley Earth, serta ERA5 (ECMWF Reanalysis v5).

“Data yang telah disesuaikan menunjukkan percepatan pemanasan global sejak 2015 dengan tingkat kepastian statistik lebih dari 98 persen, konsisten di semua kumpulan data yang diperiksa dan tidak bergantung pada metode analisis yang dipilih,” kata salah satu peneliti PIK dan ketua penelitian Stefan Rahmstorf.

Penelitian ini berfokus pada analisis statistik percepatan pemanasan global, bukan meneliti penyebab spesifiknya.

Setelah mengoreksi pengaruh El Niño dan periode maksimum aktivitas Matahari, tahun 2023 dan 2024 yang mencatat suhu sangat tinggi menjadi sedikit lebih dingin dalam analisis, tetapi tetap tercatat sebagai dua tahun terpanas sejak pengukuran suhu modern dimulai.

Dalam seluruh kumpulan data yang dianalisis, percepatan pemanasan mulai terlihat sekitar 2013 hingga 2014.

Untuk memastikan perubahan laju pemanasan sejak 1970-an, para peneliti menggunakan dua pendekatan statistik yaitu analisis tren kuadratik dan model linear bertahap yang menentukan titik perubahan laju pemanasan secara objektif.

Meski tidak meneliti penyebab spesifik, para penulis mencatat bahwa model iklim global memang memproyeksikan kemungkinan peningkatan laju pemanasan seperti yang kini teramati.

Jika laju pemanasan dalam 10 tahun terakhir terus berlanjut, hal ini akan menyebabkan pelampauan jangka panjang batas 1,5 derajat Celsius yang ditetapkan dalam Paris Agreement sebelum 2030.

"Seberapa cepat bumi terus memanas pada akhirnya bergantung pada seberapa cepat kita mampu menurunkan emisi karbon dioksida global dari bahan bakar fosil hingga mencapai nol,” kata Rahmstorf. (*) 
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index