Kairo, sorotkabar.com - Pemerintah Mesir menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga sebesar 30 persen mulai Selasa (10/3) waktu setempat.
Alasan kenaikan harga bahan bakar ini adalah tekanan energi global yang "luar biasa" akibat perang di Timur Tengah, yang mengganggu pasokan minyak dan jalur pelayaran.
Kenaikan harga ini, seperti dilansir AFP, Selasa (10/3/2026), diumumkan oleh Kementerian Perminyakan Mesir dan berlaku untuk bensin, solar, dan gas alam yang digunakan dalam kendaraan.
Dalam pernyataannya, Kementerian Perminyakan Mesir menjelaskan bahwa penyesuaian tersebut didorong oleh "gangguan dalam rantai pasokan, meningkatnya tingkat risiko, dan biaya pengiriman dan asuransi maritim yang lebih tinggi".
Disebutkan bahwa situasi konflik telah mendorong harga produk petroleum ke "tingkat yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir".
Harga minyak sempat melonjak di atas US$ 119 per barel pada Senin (9/3) waktu setempat, sebelum anjlok ke sekitar US$ 84, setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan perang AS-Israel melawan Iran akan segera berakhir.
Berdasarkan kebijakan pemerintah Kairo, maka harga solar, salah satu BBM yang paling banyak digunakan di Mesir, naik sebanyak 3 Pound Mesir (Rp 958), atau sekitar 17,1 persen.
Dari yang tadinya seharga 17,50 Pound Mesir (Rp 5.589) per liter, kini harga solar naik menjadi 20,50 Pound Mesir (Rp 6.547) per liter.
Harga bensin oktan 80 naik sekitar 16,9 persen menjadi 20,75 Pound Mesir (Rp 6.627) per liter. Sedangkan harga bensin oktan 92 naik sekitar 15,6 persen menjadi 22,25 Pound Mesir (Rp 7.106) per liter.
Harga bensin oktan 95 naik sekitar 14,3 persen menjadi 24 Pound Mesir (Rp 7.665) per liter.
Gas alam yang digunakan untuk kendaraan mengalami kenaikan terbesar, melonjak 30 persen menjadi 13 Pound Mesir (Rp 4.151) per meter kubik.
Mesir telah menaikkan harga bahan bakar sebanyak empat kali selama dua tahun terakhir di bawah program pinjaman US$ 8 miliar dari Dana Moneter Internasional (IMF).
Kenaikan sebesar 13 persen pada Oktober tahun lalu diperkirakan menjadi yang terakhir di bawah program tersebut.(*)