Pekanbaru, sorotkabar. com - Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan ketika matahari perlahan menyibak langit di hamparan hutan tanaman di Riau. Udara pagi membawa aroma tanah basah, bercampur suara burung yang bersahutan dari kejauhan.
Di sebuah sudut kawasan itu, langkah berat seekor gajah muda memecah kesunyian. Tubuhnya masih kecil, telinganya bergerak perlahan, dan sesekali belalainya menjulur menyentuh tanah seakan sedang mempelajari dunia di sekelilingnya.
Namanya April.
Anak gajah jantan itu lahir pada 6 April, kini berusia sekitar 32 bulan. Ia tumbuh di bawah pengawasan induknya, Carmen, gajah betina berusia 17 tahun yang hampir tak pernah jauh dari sisinya. Setiap kali April bergerak terlalu jauh, Carmen akan mendekat, mengawasi dengan naluri keibuan yang kuat.
Di tempat itulah, di sebuah kawasan yang dikenal sebagai Unit Konservasi Gajah (UKG), kehidupan para gajah berjalan berdampingan dengan upaya manusia menjaga kelangsungan spesies yang semakin terdesak ruang hidupnya itu.
UKG dibangun sebagai pusat konservasi, perawatan, sekaligus pembelajaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Bagi para pengelolanya, tempat ini bukan sekadar kandang, melainkan ruang hidup bagi satwa yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.
Di dalam kawasan tersebut saat ini terdapat tujuh ekor gajah yang dirawat secara intensif. Mereka terdiri dari berbagai usia, mulai dari anak gajah seperti April hingga gajah senior seperti Ika, betina berusia sekitar 40 tahun yang menjadi salah satu penghuni tertua di lokasi itu.
Sejak pagi buta
Setiap hari, kehidupan di UKG dimulai sejak pagi buta. Sebelum matahari benar-benar naik, para mahout, sebutan untuk pawang gajah, telah memulai rutinitas mereka.
Di bawah naungan pepohonan besar, sembilan orang mahout bekerja bergantian merawat gajah. Setiap tiga orang bertanggung jawab atas dua ekor gajah, membangun kedekatan yang tidak sekadar hubungan antara manusia dan hewan, melainkan hubungan yang dibangun melalui kepercayaan.
Bagi para mahout, merawat gajah bukan hanya pekerjaan. Ia adalah komitmen yang menuntut kesabaran, ketelatenan, dan pemahaman mendalam terhadap perilaku satwa.
Pagi hari biasanya dimulai dengan memandikan gajah di aliran air yang berada tidak jauh dari hanggar tempat mereka beristirahat. Suara air yang disiramkan ke tubuh besar gajah berpadu dengan tawa ringan para mahout yang sudah akrab dengan kebiasaan masing-masing satwa.
Setelah mandi, gajah kemudian diberi makan. Rumput segar menjadi menu utama, namun itu bukan satu-satunya asupan yang mereka terima.
Mahout di UKG juga menyiapkan pakan tambahan berupa puding gajah campuran bahan bernutrisi yang diolah khusus untuk menunjang kesehatan satwa.
Joko, salah satu mahout yang telah lama bekerja di unit tersebut, mengatakan bahwa pembuatan puding gajah bukan sekadar rutinitas pemberian pakan tambahan.
“Puding gajah ini kami buat untuk memastikan asupan nutrisi tercukupi, terutama bagi gajah yang membutuhkan perhatian khusus. Ini juga sering kami tunjukkan kepada pengunjung, supaya mereka tahu bahwa merawat gajah tidak sesederhana memberi makan rumput,” ujarnya.
Campuran bahan dalam puding itu biasanya terdiri dari berbagai unsur nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan gajah. Teksturnya padat dan mudah dikonsumsi, sekaligus membantu menjaga kondisi tubuh satwa tetap sehat.
Selain makanan, kesehatan gajah menjadi perhatian utama.
Untuk memastikan kondisi mereka tetap terpantau, UKG dilengkapi dengan sejumlah fasilitas perawatan. Salah satunya adalah kandang jepit, sebuah struktur yang dirancang untuk memudahkan pemeriksaan kesehatan secara lebih detail.
Di tempat itu, dokter hewan atau tenaga teknis dapat mengambil sampel darah, memberikan vitamin, atau melakukan tindakan medis lain yang diperlukan.
Seluruh prosedur dilakukan dengan pendekatan kesejahteraan satwa, meminimalkan stres bagi gajah yang diperiksa.
Angga Defila Yoelanda, Asisten Kepala Forest Protection yang terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut, menjelaskan bahwa keberadaan UKG menjadi bagian dari upaya memperkuat konservasi gajah Sumatera.
“Awalnya kami hanya memiliki tiga gajah, namun seiring penguatan program konservasi jumlahnya bertambah menjadi tujuh. Unit ini menjadi pusat perawatan sekaligus pelatihan dengan dukungan mahout yang terlatih,” kata Angga.
Menurut dia, pertambahan jumlah gajah itu menjadi indikasi bahwa pengelolaan yang dilakukan berjalan dengan baik.
Namun keberadaan UKG tidak hanya berkaitan dengan perawatan gajah yang ada di dalam kawasan.
Kolaborasi
Unit ini juga terlibat dalam berbagai upaya konservasi di tingkat lanskap yang lebih luas, termasuk kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
Kolaborasi tersebut mencakup pemeriksaan kesehatan, penanganan medis, hingga bantuan apabila terdapat gajah liar yang mengalami gangguan kesehatan di sekitar kawasan hutan.
“Jika ada gajah yang sedang hamil, kami juga melakukan pemantauan intensif. Pemberian vitamin dan pemeriksaan rutin dilakukan untuk memastikan induk dan anaknya sehat hingga proses kelahiran,” ujar Angga.
Di luar area perawatan, kawasan UKG juga terhubung dengan wilayah yang dikenal sebagai green belt.
Green belt merupakan kawasan yang dipertahankan sebagai ekosistem alami. Di dalamnya terdapat pepohonan besar, sumber air, dan berbagai jenis vegetasi yang menjadi habitat bagi beragam satwa.
Kawasan itu berfungsi sebagai penyangga ekosistem sekaligus koridor bagi satwa liar.
“Di dalam green belt ada sumber air yang sangat penting bagi satwa. Kawasan ini juga menjadi jalur alami bagi gajah agar tetap memiliki ruang gerak,” kata Angga.
Keberadaan ruang alami semacam ini menjadi penting di tengah tekanan terhadap habitat gajah sumatera yang semakin meningkat.
Konflik antara manusia dan gajah di berbagai wilayah Sumatera kerap terjadi akibat penyempitan habitat. Ketika jalur jelajah gajah terganggu, satwa tersebut sering memasuki wilayah perkebunan atau permukiman, yang kemudian memicu konflik.
Dalam konteks itulah, model pengelolaan kawasan yang mengintegrasikan konservasi dan perlindungan habitat menjadi semakin relevan.
Di UKG, para mahout tidak hanya bertugas merawat gajah yang ada di dalam unit. Mereka juga melakukan patroli konservasi untuk memantau kondisi kawasan sekitar.
Patroli ini bertujuan memastikan tidak ada gangguan terhadap satwa maupun habitatnya.
Peran mahout menjadi sangat penting dalam keberhasilan program tersebut. Hubungan yang terbangun antara mahout dan gajah memungkinkan proses pelatihan serta perawatan berjalan lebih efektif.
Mahout memahami karakter setiap gajah mana yang mudah diajak bekerja sama, mana yang perlu pendekatan lebih hati-hati.
Bagi mereka, setiap gajah memiliki kepribadian yang berbeda.
April, misalnya, dikenal aktif dan sering berlari kecil di sekitar induknya. Sesekali ia mendekati mahout yang sudah dikenalnya, mengibaskan telinga dan menggerakkan belalai seolah mengajak bermain.
Pemandangan itu menjadi gambaran kecil bagaimana konservasi berlangsung dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu dalam bentuk kebijakan besar, tetapi dalam rutinitas sederhana yang dijalankan dengan konsisten.
Namun upaya konservasi tidak selalu berjalan tanpa tantangan.
Di kawasan hutan yang lebih luas, ancaman terhadap satwa liar masih terus terjadi. Salah satu yang paling memprihatinkan adalah pemasangan jerat yang dapat membahayakan berbagai jenis satwa, termasuk gajah.
Beberapa waktu lalu, kematian seekor anak gajah akibat jerat menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap satwa liar masih nyata.
Kepala Balai TNTN Heru Sutmantoro menyebut kejadian itu sebagai pukulan keras bagi upaya konservasi.
“Kami menyampaikan keprihatinan yang mendalam. Ini menunjukkan masih ada aktivitas yang menyebabkan kematian satwa liar di kawasan hutan,” katanya.
Balai TNTN kemudian memperketat patroli kawasan dan memperkuat kerja sama lintas pemangku kepentingan untuk memberantas jerat satwa liar.
Menurut Heru, pemasangan jerat di kawasan hutan harus dilarang secara tegas karena dapat membahayakan berbagai jenis satwa, bukan hanya hewan yang menjadi target.
“Memasang jerat di kawasan hutan apa pun harus dilarang dan pelakunya harus disanksi tegas,” ujarnya.
Upaya pengamanan kawasan kini juga diperkuat dengan dukungan sekitar 230 personel TNI yang turut membantu menjaga wilayah konservasi.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi untuk memastikan kawasan hutan tetap aman bagi satwa liar.
Bagi para pengelola konservasi, keberhasilan menjaga populasi gajah tidak hanya bergantung pada satu pihak. Ia membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga yang memiliki kepedulian terhadap kelestarian alam.
Di tengah berbagai tantangan itu, kehidupan di Unit Konservasi Gajah tetap berjalan seperti biasa.
Di bawah rindangnya pepohonan, April kembali mendekati induknya. Belalainya bergerak perlahan menyentuh tanah, sementara Carmen berdiri tenang mengawasi sekeliling.
Suara daun yang bergesekan tertiup angin menjadi latar bagi kehidupan yang terus berlanjut.
Di tempat itulah, konservasi tidak lagi sekadar konsep atau wacana.
Ia hadir dalam langkah berat seekor gajah muda, dalam tangan para mahout yang setia mendampingi, dan dalam upaya panjang menjaga agar hutan tetap menjadi rumah bagi mereka yang tak memiliki suara untuk membela dirinya sendiri.(*)