Sirine Berbunyi dari Utara Hingga Selatan Israel, Rudal Iran Incar Situs Nuklir Dimona

Sirine Berbunyi dari Utara Hingga Selatan Israel, Rudal Iran Incar Situs Nuklir Dimona
Reaktor Nuklir Israel, Dimona

Doha, sirotkabar.com — Sirine tanda datangnya serangan drone dan rudal kembali berbunyi di kota-kota Israel  pada Senin (9/3/2026). Jika sebelumnya serangan Iran cenderung terfokus pada titik-titik tertentu, kali ini Teheran mengirimkan pesan yang jauh lebih destruktif, yakni dari ujung utara hingga jauh ke selatan gurun Negev.

Raungan sirine pertahanan udara pun berbunyi serentak di wilayah Tel Arad dan Dimona—sebuah lokasi yang sangat sensitif karena menjadi rumah bagi pusat penelitian nuklir Israel. Pada saat yang sama, wilayah utara dari kota pelabuhan Haifa hingga Tiberias, Lembah Jezreel, Beisan, hingga Galilea Bawah, juga berada di bawah ancaman langsung hujan rudal balistik Iran, lapor Al Jazeera.

Prosedur keamanan di Israel kini berjalan dalam hitungan detik. Berdasarkan laporan militer Israel (IDF), sistem deteksi dini biasanya akan memberikan peringatan awal segera setelah rudal terdeteksi meluncur dari daratan Iran.

Sekitar lima hingga enam menit kemudian, sirine akan mulai meraung di area yang diprediksi menjadi titik jatuh. Interval waktu yang sangat singkat ini menjadi satu-satunya kesempatan bagi warga sipil untuk berlari menuju bunker atau ruang perlindungan bawah tanah sebelum dentuman keras—baik dari hasil intersepsi sistem Arrow dan David's Sling maupun hantaman langsung rudal ke permukaan—menggetarkan tanah.

Spektrum Serangan yang Meluas

Analis militer mencatat bahwa serangan kali ini menandai perubahan taktik yang signifikan dalam Operasi True Promise 4. Dengan menyasar Dimona di selatan dan Haifa di utara secara simultan, Iran memaksa sistem pertahanan udara Israel bekerja hingga melampaui batas maksimalnya.

"Serangan ini dirancang untuk memecah konsentrasi radar pertahanan udara," ujar seorang pengamat keamanan regional. Fokus pada wilayah Negev, khususnya di sekitar instalasi nuklir Dimona, dianggap sebagai pesan psikologis berat bahwa infrastruktur paling rahasia dan paling dijaga ketat sekalipun kini berada dalam jangkauan hulu ledak Teheran.

Di Haifa, kota yang biasanya ramai dengan aktivitas pelabuhan, jalanan kini lengang. Suara ledakan terdengar bersahutan di langit saat rudal pencegat mencoba menghalau proyektil yang datang. Warga melaporkan melihat jejak cahaya putih yang membelah kegelapan malam, diikuti oleh kilatan cahaya oranye besar yang menerangi cakrawala.

Situasi ini semakin memperumit krisis kemanusiaa

n di dalam Israel. Dengan jangkauan rudal yang mencakup hampir seluruh wilayah negara, ruang gerak logistik dan operasional militer menjadi sangat terbatas. Kini, saat sirine terus meraung di pusat-pusat populasi dari Beisan hingga Lembah Jezreel, warga hanya bisa menunggu dalam doa di balik dinding-dinding beton bunker, menanti kapan hujan api dari langit ini akan berakhir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menuding bahwa Amerika Serikat telah dengan sengaja mentorpedo  proses diplomatik yang sedang berlangsung melalui serangan militer besar-besaran.

"Mereka mengobarkan perang di saat kami sedang terlibat sepenuhnya dalam diskursus diplomatik," ujar Baghaei dalam konferensi pers di Teheran, Senin (9/3/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa diplomasi kini telah mati, digantikan oleh kesatuan nasional yang tak tergoyahkan. "Oleh karena itu, kami hadir dengan satu suara: membela negara kami."

Bagi Teheran, agresi gabungan AS-Israel bukan sekadar konfrontasi bersenjata, melainkan serangan terhadap tatanan hukum dunia. Baghaei menegaskan bahwa setiap norma, praktik, dan hukum internasional kini berada dalam risiko besar akibat tindakan Washington dan Tel Aviv yang secara terang-terangan melanggar kedaulatan sebuah negara berdaulat.

Di balik retorika militer, Iran mencium aroma ambisi ekonomi yang kental. Baghaei menuduh AS memiliki desain besar yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar serangan udara: yaitu memecah belah (partitioning) wilayah Iran guna menguasai sumber daya minyak secara ilegal.

"Desain mereka jelas, rencana mereka sangat nyata. Mereka bertujuan membagi negara kami untuk mengambil kepemilikan ilegal atas kekayaan minyak kami," tegas Baghaei. Baginya, tujuan akhir dari serangan ini adalah pelanggaran kedaulatan, penaklukan rakyat, dan penghancuran nilai-nilai kemanusiaan bangsa Iran.

Tuduhan tersebut, ujar Baghaei, menjadi katalisator bagi bersatunya berbagai elemen politik di Iran. Di saat ancaman terhadap cadangan minyak nasional kian nyata—terutama di wilayah-wilayah strategis seperti Khuzestan—rakyat Iran dipaksa untuk memilih antara perselisihan internal atau bersatu melawan apa yang mereka sebut sebagai "penjajahan modern".

Serangan ke Lebanon

Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah bertambah menjadi 394 orang, sementara 1.130 lainnya mengalami luka-luka, kata otoritas kesehatan Lebanon pada Ahad (8/3).

Sebelumnya pada Sabtu, Kementerian Kesehatan Lebanon mengatakan 294 orang telah tewas dan 1.023 lainnya terluka. Menurut data kementerian, 83 anak kehilangan nyawa dan 254 anak lainnya luka-luka akibat serangan Israel.

Sementara itu, Israel mengatakan enam roket telah diluncurkan oleh kelompok perlawanan Hizbullah pada Senin pagi sehingga memicu pasukan Israel untuk menyerang target-target di seluruh Lebanon, termasuk di ibu kota Beirut.

Pada 2 Maret, Hizbullah meluncurkan rudal dan drone ke Israel sebagai balasan atas pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan serangan Israel ke Lebanon.

Israel kemudian membalas dengan serangan udara besar-besaran dan mengirim pasukan darat ke Lebanon yang menimbulkan eskalasi dan menyebabkan ratusan ribu warga sipil mengungsi.

Menteri Sosial Lebanon Haneen Sayed pada Minggu mengatakan sekitar 517.000 pengungsi telah terdaftar di platform bantuan pemerintah. (*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index