London,sorotkabar.com – Harga emas dunia naik pada Kamis (5/3/2026) didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah eskalasi perang di Timur Tengah.
Namun penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta kekhawatiran terhadap kebijakan moneter bank sentral AS membatasi kenaikan harga logam mulia tersebut.
Harga emas spot naik 0,4% menjadi US$ 5.156,11 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April meningkat 0,7% menjadi US$ 5.168,20 per ons. Emas mencetak rekor US$ 5.594,82 pada Januari.
Harga emas melonjak menembus US$ 5.400 pada Senin (2/3/2026) setelah dimulainya serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang memicu lonjakan permintaan aset safe haven. Namun harga kemudian terkoreksi karena dolar AS juga menguat akibat meningkatnya permintaan aset aman.
Sementara itu, harga perak spot naik 0,8% menjadi US$ 84,10 per ons. Platinum menguat hampir 1% ke level US$ 2.168,05 per ons, sedangkan paladium turun 0,9% menjadi US$ 1.659,35 per ons.
Ekonom iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, mengatakan konflik di Timur Tengah dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai.
“Pada satu sisi, permintaan safe haven terhadap emas bisa meningkat karena konflik di Timur Tengah yang terus berlangsung,” ujar Hussain dilansir dari Reuters.
“Namun pada sisi lain, risiko periode panjang harga energi yang tinggi dapat membuat pemangkasan suku bunga menjadi tertunda bahkan meningkatkan peluang kenaikan suku bunga, sehingga membatasi kenaikan harga emas lebih lanjut,” tambahnya.
Dolar AS menguat sekitar 0,2% setelah sebelumnya sempat turun dari level tertinggi dalam tiga bulan. Pergerakan tersebut terjadi ketika dampak perang mengguncang pasar global dan membuat sentimen investor tetap rapuh.
Kekhawatiran terhadap pasokan energi juga terus mendorong harga minyak naik sekaligus memicu kekhawatiran inflasi. Dalam jangka panjang, emas sering dianggap sebagai lindung nilai terhadap inflasi, tetapi logam mulia ini cenderung lebih diminati ketika suku bunga lebih rendah karena tidak memberikan imbal hasil.
Investor kini menantikan data klaim pengangguran mingguan AS yang akan dirilis pada Kamis serta laporan ketenagakerjaan AS periode Februari yang dijadwalkan keluar pada Jumat (6/3/2026) untuk mendapatkan petunjuk arah kebijakan moneter tahun ini.(*)