Teheran,sorotkabar.com - Lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz anjlok tajam setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026). Jalur sempit di perbatasan selatan Iran yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman itu merupakan salah satu arteri maritim paling vital bagi perdagangan energi dunia.
Data pelacakan kapal dari platform MarineTraffic menunjukkan penurunan hingga 70% pergerakan kapal yang melintasi Selat Hormuz hingga Minggu (1/3/2026) malam waktu Iran. Mayoritas kapal memilih berputar arah, mengalihkan rute, atau berhenti sementara di Teluk Oman.
Pada sisi lain, perusahaan pemantau pengiriman minyak TankerTrackers.com melaporkan sekitar 55 kapal tanker masih berada di perairan Iran, yakni 18 bermuatan minyak mentah dan 37 kosong. Kemacetan di Selat Hormuz kini mengancam pasokan energi global sekaligus ekspor minyak Iran sendiri.
Menurut analisis maritim Dimitris Ampatzidis dilaporkan The New York Times, negara-negara yang paling terdampak adalah Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Qatar, karena sebagian besar ekspor minyak mentah dan gas alam cair mereka bergantung pada jalur tersebut.
Meski demikian, sebagian kapal masih mencoba melintasi perairan itu. Data dari MarineTraffic dan Pole Star Global memperlihatkan sejumlah kapal tetap bergerak. David Tannenbaum, mantan pejabat kepatuhan sanksi di Departemen Keuangan AS menilai kapal-kapal itu kemungkinan berupaya keluar sebelum situasi memburuk.
Militer Iran sebelumnya memperingatkan kapal agar menghindari Selat Hormuz karena dinilai tidak aman untuk dilalui. Namun, seorang pejabat AS menyatakan belum ada bukti Iran berupaya melakukan blokade militer penuh atas jalur tersebut.
Menutup total Selat Hormuz dinilai sulit karena membutuhkan kehadiran militer berkelanjutan dan berisiko menguras kapasitas operasi Iran di sektor lain.
Sementara itu, Presiden Donald Trump menyatakan Amerika Serikat siap menghancurkan kemampuan angkatan laut Iran.(*)