Jakarta ,sorotkabar.com-
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yusmiana Rahayu menyebut padang lamun Indonesia berpotensi menyimpan karbon 0,26 sampai dengan 0,55 gigatan karbon dioksida ekuivalen (Gt CO2e), memperlihatkan peran penting dalam penanganan perubahan iklim.
Dalam diskusi daring yang diikuti dari Jakarta, Senin, ia menyampaikan angka tersebut berdasarkan estimasi luas padang lamun di tanah air berkisar 875.967-1.847.341 hektare, menurut data pada 2018.
"Kemudian totalnya saya gabungkan setelah dikaitkan luas, mendapatkan 0,26 sampai 0,55 gigaton CO2 ekuivalen," katanya.
Penghitungan tersebut, sebagai gabungan dari kemampuan penyimpanan karbon biomassa dan sedimen dari ekosistem lamun.
Dia menyoroti potensi besar ekosistem padang lamun jika dibandingkan dengan total emisi gas rumah kaca di Indonesia, yaitu 1,84 Gt CO2e yang dilaporkan pada 2019 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
"Jadi ini untuk memberikan perbandingan seberapa besar potensi karbon di ekosistem lamun yang kita punya dibandingkan dengan emisi yang terjadi di Indonesia," katanya mengacu pada hasil riset yang dilakukan pada 2024.
Jumlah itu kemungkinan dapat berubah mengingat Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) baru merilis Peta Karang dan Padang Lamun Nasional 2025 pada akhir tahun lalu. Dengan pemerintah menetapkan jumlah luasan karang keras secara nasional adalah 838 ribu hektare dan 660 ribu hektare untuk ekosistem padang lamun.
Dia menyoroti bahwa peran karbon biru kini juga semakin penting dalam upaya mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca nasional, yang tertuang dalam dokumen iklim National Determined Contribution (NDC). Dengan sektor kelautan dan perikanan, kini sudah diperhitungkan dalam penyelenggaraan nilai ekonomi karbon.
"Artinya kita perlu data yang lebih siap, karena masih banyak data-data khususnya ekosistem lamun yang dibutuhkan untuk kita bisa menghitung inventarisasi dengan lebih detail," demikian Yusmiana Rahayu.(*)