Jakarta,sorotkabar.com - Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Senin (23/2/2026) atau Selasa (24/2/2026) pagi, di tengah rencana putaran ketiga perundingan nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Iran serta ketidakpastian baru akibat kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka Brent turun 27 sen atau 0,38% dan ditutup di level US$ 71,49 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) terkoreksi 17 sen atau 0,26% ke posisi US$ 66,31 per barel.
Sentimen pasar terbagi antara meredanya kekhawatiran konflik militer AS-Iran dan potensi perlambatan ekonomi global akibat kenaikan tarif baru AS.
Pada Sabtu, Trump menyatakan akan menaikkan tarif sementara impor AS dari 10% menjadi 15%, batas maksimum yang diizinkan hukum, setelah Mahkamah Agung AS membatalkan program tarif sebelumnya.
Analis IG Markets Tony Sycamore menilai kebijakan tarif tersebut memicu arus penghindaran risiko (risk aversion) di pasar.
“Berita tarif akhir pekan lalu memicu arus risk aversion pagi ini, yang terlihat dari pergerakan harga emas dan kontrak berjangka saham AS, dan ini membebani harga minyak mentah,” ujarnya.
Kebijakan tarif itu meredam kekhawatiran sebelumnya soal potensi konflik militer AS-Iran yang sempat mendorong harga Brent dan WTI melonjak lebih dari 5% pekan lalu.
Iran dan AS dijadwalkan menggelar putaran ketiga pembicaraan nuklir pada Kamis di Jenewa, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi.
Sycamore menilai kedua negara saat ini masih memainkan diplomasi yang hati-hati.
“Saya tidak yakin AS ingin menyerang Iran, mengingat risiko destabilisasi kawasan dan potensi ketidakpuasan pemilih menjelang pemilu sela November,” katanya.
Seorang pejabat senior Iran juga menyampaikan kepada Reuters bahwa Teheran siap memberikan konsesi terkait program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi serta pengakuan atas haknya memperkaya uranium.
Pasar minyak kini mencermati perkembangan negosiasi tersebut serta dampak kebijakan tarif AS terhadap pertumbuhan global dan permintaan energi ke depan.(*)