DAS Peusangan Aceh Longsor Parah, Ekosistem Gajah Sumatera Berubah

DAS Peusangan Aceh Longsor Parah, Ekosistem Gajah Sumatera Berubah
Penjaga gajah jinak CRU DAS Peusangan Wahdi bersama dengan gajah jinak bernama Osin di CRU DAS Peusangan, Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Minggu (22/02/2026). (Antara/Fajar Satriyo)

Simpang Tiga Redelong,sorotkabar .com - Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan di Desa Negeri Antara, Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Aceh terdampak bencana banjir bandang dan longsor. Akibatnya, ekosistem gajah sumatera ikut berubah.

Sungai Peusangan kini mengalami longsor di beberapa titik lokasi dan perluasan lebar aliran sekitar 200 meter setelah bencana dahsyat melanda wilayah itu pada akhir November 2025.

“Kalau kondisi setelah bencana itu memang ada sedikit perubahan, karena gajah-gajah jina ini kita cari makannya, dan ada beberapa tempat yang memang tempatnya sudah hilang, sudah kena longsor,” kata penjaga gajah jinak di Conservation Respons Unit (CRU) DAS Peusangan Wahdi di Desa Negeri Antara dikutip dari Antara, Senin (23/2/2026).

“Sama tempat yang biasanya kami kasih minum, sehingga kami tidak bisa turun lagi ke tempat itu, karena sudah jadi semacam tebing,” sambungnya.

Gajah merupakan hewan yang memiliki ingatan spasial membuat mereka cenderung setia dan bisa melakukan kebiasaan turun-temurun. Dengan kondisi ekosistem yang terdampak, maka otomatis mengganggu pola kebiasaan kawanan gajah.

Saat ini, CRU DAS Peusangan saat ini mempunyai total tiga ekor gajah sumatera jinak dengan dengan rata-rata umur 35 tahun.

Wahdi mengatakan untuk merawat gajah jinak disini dibutuhkan ketekunan karena dalam segi perawatan gajah harus dimandikan dua kali dalam sehari.

Selain itu, perawatan gajah yakni berupa mengajarkan mereka untuk terus berjalan setiap hari sesuai dengan ekosistem aslinya.

“Kemudian ada sedikit latihan, latihan rutin itu namanya, ada untuk angkat kaki, dan juga semacam pemeliharaan cara dia bisa buka mulut seperti ini, biar bisa dia nampak giginya, supaya kami bisa cek apakah giginya bermasalah atau yang lainnya,” ungkap Wahdi.

Kondisi bencana Sumatra juga berdampak pada kawanan gajah liar yang berada di sekitar area DAS Peusangan.

Dalam keterangannya, Wahdi sering melihat kawanan gajah kerap kesulitan untuk menyeberangi aliran sungai Peusangan yang kini mengalami pelebaran.

Untuk terus menjaga ekosistem gajah, sebelumnya Presiden Prabowo Subianto telah berkomitmen mendukung langkah konservasi gajah Sumatera yang saat ini populasinya terancam.

Pemerintah baru saja memberikan hibah lahan seluas 20.000 hektare kepada World Wildlife Fund (WWF) untuk langkah konkret membantu konservasi gajah yang saat ini ekosistemnya terancam oleh konflik satwa liar di Aceh. (*) 
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index