Badai Geomagnetik G4 Melanda Global, Dampaknya bagi Indonesia

Selasa, 20 Januari 2026 | 21:59:09 WIB
Ilustrasi badai geomagnetik. (Dok NASA/Istimewa)

Jakarta,sorotkabar.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi terjadinya badai geomagnetik ekstrem skala G4 yang berdampak secara global.

Fenomena ini dipicu oleh aktivitas Matahari yang sangat kuat dan sempat menimbulkan kekhawatiran terkait potensi gangguan pada sistem teknologi modern

Meski demikian, BMKG menegaskan dampak badai geomagnetik G4 di Indonesia relatif terbatas dan tidak menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan publik maupun infrastruktur vital nasional.

Apa Itu Badai Geomagnetik?

Badai geomagnetik merupakan fenomena gangguan pada medan magnet Bumi yang disebabkan oleh aliran partikel bermuatan berenergi tinggi dari Matahari. Peristiwa ini umumnya dipicu oleh dua aktivitas utama Matahari, yakni suar Matahari (solar flare) dan lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME).

Ketika suar Matahari melepaskan energi dalam jumlah besar, partikel bermuatan tersebut dapat bergerak melintasi ruang angkasa dan mencapai Bumi. Saat partikel ini berinteraksi dengan medan magnet Bumi, terjadi fluktuasi magnetik yang dapat memengaruhi ionosfer serta sistem elektromagnetik, termasuk teknologi berbasis satelit dan komunikasi radio.

Penyebab Badai Geomagnetik G4 Global Januari 2026

BMKG menjelaskan badai geomagnetik G4 global yang terjadi pada akhir Januari 2026 berawal dari aktivitas Matahari yang sangat intens pada Minggu (18/1/2026). Pada waktu tersebut, Matahari melepaskan suar kelas X1.9, yang termasuk dalam kategori ledakan energi tertinggi di permukaan Matahari.

Ledakan ini memicu gelombang elektromagnetik dan lontaran massa korona yang melaju ke arah Bumi dengan kecepatan tinggi. Berdasarkan pemantauan lembaga-lembaga geofisika internasional dan BMKG, peristiwa tersebut kemudian diklasifikasikan sebagai badai geomagnetik level G4, yaitu kategori badai geomagnetik tinggi dengan potensi dampak signifikan secara global.

Mengapa Dampak Badai Geomagnetik G4 di Indonesia Terbatas?

Meski tergolong ekstrem dalam skala global, dampak badai geomagnetik G4 di Indonesia relatif lebih ringan. Hal ini disebabkan oleh posisi geografis Indonesia yang berada di lintang rendah dekat garis ekuator.

Dikutip dari Antara, Selasa (20/1/2026), Ketua Tim Kerja Geofisika Potensial BMKG Syirojudin, menjelaskan wilayah ekuatorial seperti Indonesia cenderung lebih terlindungi dari gangguan geomagnetik intens.

Salah satu faktor pelindung alami tersebut adalah fenomena equatorial electrojet, yakni arus listrik kuat di lapisan ionosfer yang membantu meredam masuknya partikel bermuatan energi tinggi.

Akibatnya, intensitas gangguan yang dirasakan di Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan negara-negara di lintang tinggi, seperti Kawasan Eropa, Amerika Utara, atau wilayah kutub.

Hasil Observasi dan Pengukuran BMKG

Selama periode badai geomagnetik, BMKG melakukan pemantauan melalui jaringan observatorium magnet Bumi yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk di Sulawesi Utara. Hasil pengukuran menunjukkan adanya gangguan magnetik lokal dengan nilai indeks K di kisaran 8 hingga 9.

Secara ilmiah, indeks K digunakan oleh BMKG, National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), serta lembaga geofisika internasional untuk mengukur tingkat gangguan medan magnet Bumi.

Nilai tersebut menunjukkan kondisi badai magnet besar hingga ekstrem. Namun, efek gangguan tersebut secara signifikan melemah di wilayah ekuator, sehingga tidak menimbulkan dampak luas di Indonesia.

Dampak Badai Geomagnetik G4 bagi Masyarakat dan Teknologi

BMKG menegaskan bahwa badai geomagnetik G4 tidak menimbulkan bahaya langsung bagi kesehatan manusia. Meski begitu, terdapat kemungkinan dampak sementara pada beberapa sistem teknologi yang bergantung pada sinyal luar angkasa, antara lain:

Penurunan akurasi sistem navigasi GPS, yang dapat berdampak pada sektor transportasi dan logistik.

Gangguan sementara pada komunikasi radio frekuensi tinggi (HF), termasuk yang digunakan dalam penerbangan dan pelayaran.

Fluktuasi pada layanan berbasis satelit, tergantung kondisi sinyal dan lintasan orbit.

BMKG memastikan infrastruktur vital, termasuk sistem kelistrikan nasional, berada dalam kondisi aman dan tidak berisiko mengalami gangguan fatal akibat fenomena ini.

Sebagai langkah antisipasi, BMKG menyampaikan sejumlah imbauan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan, antara lain:

Tetap tenang dan tidak panik jika terjadi gangguan minor pada layanan teknologi.

Operator telekomunikasi, navigasi, dan satelit diimbau untuk memantau kualitas sinyal secara berkala.

Masyarakat disarankan mengikuti informasi resmi BMKG terkait perkembangan aktivitas geomagnetik dan cuaca antariksa.

Langkah-langkah tersebut penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap fluktuasi sistem teknologi yang dipengaruhi oleh aktivitas Matahari dan kondisi ruang angkasa.(*)

Halaman :

Terkini