Harga Minyak Sawit Cs Melonjak 21,5 Persen Imbas Perang Timur Tengah

Harga Minyak Sawit Cs Melonjak 21,5 Persen Imbas Perang Timur Tengah
FAO melaporkan harga minyak nabati dunia melonjak 21,5 persen pada Mei 2026 dibandingkan tahun lalu buntut susutnya pasokan hingga perang Timur Tengah. Foto: CNN Indonesia/ Hesti Rika)

Jakarta,sorotkabar.com - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) melaporkan harga minyak nabati seperti sawit hingga bunga matahari, dunia melonjak 21,5 persen pada Mei 2026 dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut didorong kombinasi pasokan global yang ketat dari negara produsen utama seperti Indonesia, tingginya permintaan dari industri biofuel, serta lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Dalam laporan Food Outlook edisi Juni 2026, FAO mencatat indeks harga minyak nabati menjadi komoditas pangan yang naik paling tajam dibandingkan sejumlah kelompok pangan lainnya sepanjang musim 2025/2026.

"Pada Mei 2026, indeks harga minyak nabati FAO meningkat tajam, naik 21,5 persen dibandingkan level pada Mei 2025," tulis FAO dalam laporannya.

FAO menjelaskan kenaikan harga minyak nabati terjadi ketika pasokan ekspor global masih terbatas, terutama untuk minyak sawit dan minyak bunga matahari. Di saat yang sama, permintaan bahan baku biofuel terus meningkat di berbagai negara.

Menurut FAO, lonjakan harga minyak mentah dunia setelah memanasnya konflik di Timur Tengah ikut memperkuat tekanan di pasar minyak nabati global.

"Harga minyak nabati internasional terus bergerak naik sejak akhir 2025, didorong kombinasi pasokan minyak sawit dan minyak bunga matahari yang ketat, permintaan kuat dari sektor biofuel, serta kenaikan tajam harga minyak mentah setelah eskalasi konflik di Timur Tengah," tulis FAO.

Lembaga tersebut menilai konflik di Timur Tengah tak hanya memengaruhi pasar energi, tetapi juga memperbesar biaya logistik, asuransi, dan perdagangan komoditas pangan secara global.

FAO mengingatkan bahwa risiko geopolitik yang tinggi dapat mempercepat transmisi kenaikan harga energi ke harga pangan dunia.

"Ketidakpastian, premi risiko, biaya asuransi, dan hambatan logistik memperkuat transmisi guncangan harga energi terhadap biaya impor pangan," tulis FAO.

Secara keseluruhan, produksi biji-bijian penghasil minyak (oilseeds) dunia pada musim 2025/2026 diperkirakan naik 2,1 persen menjadi rekor baru 721,7 juta ton. Kenaikan terutama berasal dari produksi kedelai, rapeseed, dan bunga matahari yang lebih tinggi di sejumlah negara produsen utama.

Produksi kedelai global diperkirakan mencapai rekor 432,3 juta ton, didorong peningkatan produksi di Brasil yang mampu menutupi penurunan hasil panen di Argentina, India, serta AS.

Produksi rapeseed dunia juga diperkirakan melonjak 10,2 persen menjadi 97 juta ton, level tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan terutama terjadi di Kanada dan Uni Eropa yang menikmati kondisi cuaca lebih mendukung dibanding musim sebelumnya.

Meski produksi biji-bijian minyak meningkat, FAO memperkirakan produksi minyak dan lemak nabati global hanya naik tipis 1,4 persen menjadi 273 juta ton. Penyebabnya, produksi minyak sawit dan minyak zaitun justru justru turun.

Di Indonesia, yang merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia, FAO memperkirakan produksi sawit sedikit menurun pada musim 2025/2026.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index