Jakarta,sorotkabar.com - Pulau Dewata Bali kian sesak dan macet, tetapi parlemen mengusulkan hal unik, yakni taksi laut hingga kereta bawah tanah sebagai jurus besar mengurai kemacetan pariwisata yang makin tak terkendali.
Wakil Ketua Komisi V DPR Ridwan Bae melontarkan gagasan besar, tetapi aneh untuk mengurai kemacetan kronis di Bali. Ia mendorong optimalisasi transportasi laut serta pembangunan kereta api bawah tanah sebagai solusi strategis jangka panjang bagi pulau pariwisata tersebut.
Menurut Ridwan, kepadatan lalu lintas di Bali dipicu minimnya transportasi massal yang andal. Akibatnya, pergerakan wisatawan dan warga bertumpu pada kendaraan pribadi dan angkutan darat yang kian membebani ruang jalan yang terbatas.
“Transportasi massal harus dibangun serius. Taksi laut dan kereta bawah tanah perlu dipikirkan matang, tidak boleh setengah-setengah,” ujarnya dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi V DPR di Denpasar, seperti dilansir dari laman DPR, Sabtu (21/2/2026).
Politikus Golkar itu menilai jalur laut bisa menjadi katup pelepas tekanan lalu lintas darat. Dengan karakter geografis pulau dan keterbatasan ruang, perlu terobosan distribusi mobilitas melalui laut untuk mengurangi beban jalan raya.
“Pelabuhan harus dioptimalkan. Kalau taksi laut hidup, beban darat bisa turun,” katanya.
Ridwan juga menekankan pentingnya perencanaan kereta bawah tanah sebagai solusi jangka panjang kawasan wisata yang terus tumbuh. Menurutnya, lonjakan wisatawan setiap tahun menuntut infrastruktur transportasi yang sekelas destinasi global.
“Kalau tidak dipikirkan dari sekarang, kemacetan akan terus menumpuk di mana-mana,” tegasnya.
Ia meminta negara hadir secara serius dalam pembiayaan dan perencanaan transportasi massal Bali. Dengan kontribusi besar Bali terhadap devisa pariwisata nasional, Ridwan menilai dukungan kebijakan dan anggaran harus maksimal dan tidak setengah hati.
Komisi V DPR berencana menggelar pembahasan khusus dengan seluruh pemangku kepentingan untuk merumuskan solusi terpadu. Targetnya, Bali tetap nyaman dikunjungi dan pariwisata nasional tetap kompetitif.
“Bali tidak bisa diperlakukan sama dengan daerah lain. Negara harus hadir,” tandasnya.
Sebagai gambaran, kajian lapangan menunjukkan perjalanan dari Bandara I Gusti Ngurah Rai ke Canggu via darat bisa memakan waktu 1,5 hingga 2 jam. Dengan konsep transportasi berbasis laut, waktu tempuh diproyeksikan bisa dipangkas hingga sekitar 30 menit.(*)