Tel-Aviv, sorotkabar.com - Program rudall balistik Iran, saat ini diakui Israel sebagai ancaman terbesar daripada nuklir yang mereka yakini telah lumpuh sebagian akibat perang 12 hari.
Jerusalem Post dalam laporannya pada Kamis (5/2/2026) menyebutkan bahwa Iran kini mampu memproduksi hingga 300 rudal balistik per bulan dengan bantuan China.
Kapasitas produksi rudal balistik Iran itu sampai menjadi bahasan khusus saat Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Yamir berkunjung ke Washington pekan lalu dan berdiskusi dengan petinggi militer dan diplomat top AS. Di Washington, Yamir dilaporkan melobi AS agar Trump mau mengambil tindakan keras terhadap program rudal balistik Teheran.
Zamir menegaskan, selain pengayaan uranium, program rudal balistik kini juga menjadi garis merah bagi Israel. Jika perundingan antara AS dan Iran tak termasuk keputusan pembatasan program rudal balistik, Zamir dan IDF siap untuk melancarkan serangan sepihak terhadap infrastruktur rudal Iran.
Menurut sumber-sumber di lingkungan pejabat pertahanan, niat Israel untuk melucuti kemampuan Iran di bidang rudal termasuk infrastruktur produksinya menjadi pembahasan utama di Tel Aviv beberapa pekan terakhir. Pejabat militer Israel menyinggung konsep operasi militer dengan tujuan melemahkan program rudal Iran termasuk serangan ke pabrik-pabriknya.
"Kami memberi tahu Amerika kami akan menyerang sendiri jika Iran melewati garis merah yang telah kami tetapkan terkait rudal balistik," ujar sumber itu.
Guna mencegah kesepakatan antara AS dan Iran sebatas masalah program nuklir, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump di Washington pada Rabu (11/2/2026). Netanyahu diyakini akan mendesak Trump agar memaksa Iran untuk membatasi program rudal balistiknya.
"Perdana Menteri meyakini negosiasi apapun harus termasuk pembatasan rudal balistik dan pencegahan dukungan terhadap poros Iran," demikian keterangan resmi Perdana Menteri Israel, lewat akun media sosial X, Sabtu (7/2/2026).
Di kalangan kepemimpinan militer Israel dilaporkan muncul kekhawatiran bahwa Donald Trump mungkin saja mengadopsi model serangan terbatas, sama dengan diterapkan terhadap militan Houthi di Yaman, yang mereka khawatirkan akan membuat kemampuan kritis pertahanan Iran tak tersentuh.
"Kekhawatiran adalah mungkin dia (Trump) akan memilih beberapa target, mendeklarasikan keberhasilan serangan, dan meninggalkan Israel berurusan dengan dampak buruk, seperti yang terjadi dengan Houthi," kata sumber itu.
Brigadir Jenderal Omer Tishler, yang akan menjabat komandan Angkatan Udara Israel, dijadwalkan akan menemani Netanyahu dalam kunjungannya ke Washington pekan ini. Pertemuan digelar di sela-sela AS dan Iran menjalani perundingan tak langsung di Oman.
Iran dan AS pada Jumat (6/2/2026) melanjutkan perundingan nuklir di Muscat, Oman setelah beberapa pekan diwarnai ketegangan yang dipicu oleh ancaman militer dari Trump terhadap Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menggambarkan perundingan di Muscat sebagai "awal baik", dengan mengatakan bahwa kedua negara bisa melanjutkan perundingan jika atmosfer rasa tidak saling percaya bisa teratasi.
Araghchi mengatakan bahwa kedua belah pihak setuju untuk melanjutkan perundingan di Muscat pada tanggal yang lain. Menurut Araghchi, program rudal balistik tidak menjadi subjek negosiasi saat ini dan masa depan, dengan menggambarkan program itu sebagai sebuah "masalah pertahanan".
Strategi dan pengembangan rudal
Iran mengatakan, rudal balistik mereka mampu menyediakan sistem penangkal penting (deterrence) dan serangan balasan kuat terhadap AS, Israel dan target potensial lain di kawasan. Menurut sebuah laporan pada 2023 yang dibuat oleh peneliti senior di Yayasan Demokrasi Pertahanan berbasis di AS, Ben Talebu, Iran terus mengembangkan depot rudal bawah tanah lengkap dengan sistem transportasi dan peluncurannya, dan juga tempat produksi dan penyimpanan di bawah tanah.
Menurut laporan Talebu, pada 2020, untuk pertama kalinya Iran berhasil meluncurkan rudal balistik dari bawah tanah.
"Rekayasa-balik dan produksi rudal selama bertahun-tahun telah mengajarkan Iran tentang cara memperpanjang daya jelajah dan membangun rudal-rudalnya dengan material komposit yang lebih ringan untuk meningkatkan jangkauan rudal," demikian kata laporan itu.
Pada Juni 2023, seperti laporan IRNA, Iran mempresentasikan apa yang disebut para pejabat militernya sebagai rudal hipersonik pertama yang berhasil mereka buat. Rudal hipersonik diberi nama Fattah itu, dapat terbang setidaknya lima kali lebih cepat dari kecepatan suara dan melesat pada lintasan yang lebih kompleks, yang membuatnya lebih sulit untuk diintersep.
Arms Control Association mengatakan, progam rudal Iran sebagian besar berdasarkan desain dari Korea Utara dan Rusia yang dibantu produksinya oleh China. Iran juga diketahui memiliki rudal yang diluncurkan dari kapal perang seperti Kh-55, yang mampu menjelajah jarak hingga 3.000 km.(*)