Kuningan,sorotkabar.com – Teror ribuan ulat bulu menyerang warga di RT 04 RW 01 Desa Pagundan, Kecamatan Lebakwangi, Kabupaten Kuningan. Petugas pemadam kebakaran pun diterjunkan untuk membasmi hewan melata yang bisa bikin gatal tersebut.
Keberadaan ribuan ekor ulat bulu itu dilaporkan oleh warga bernama Diding Sumardi (55). Ulat-ulat itu dilaporkan bersarang di pohon jati putih depan rumahnya.
“Populasi ulat bulu itu kemudian kian meningkat hingga mulai mengganggu kenyamanan dan keselamatan warga,” ujar Kepala UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan, Andri Arga Kusuma, Senin (9/2/2026).
Fenomena ulat bulu itu semakin hari terus bertambah hingga mencapai tahap yang sangat meresahkan. Ulat bulu tersebut bahkan sampai masuk ke dalam rumah milik Diding melalui bentangan kabel dan hembusan angin.
“Tak hanya itu, ulat bulu juga kerap berjatuhan mengenai para pengendara sepeda motor yang melintas di bawahnya,” terang Andri.
Menyadari risiko iritasi serta potensi kecelakaan bagi pengguna jalan, Diding akhirnya berinisiatif menghubungi UPT Pemadam Kebakaran Satpol PP Kabupaten Kuningan untuk memohon bantuan pemusnahan ulat secara menyeluruh. Hal itu demi keamanan bersama.
Mendapat laporan tersebut, petugas Damkar langsung mendatangi lokasi. Petugas melakukan tindakan pemusnahan ulat bulu dari atas pohon jati putih dengan cara dibakar dan disemprotkan cairan insektisida.
Andri mengatakan, dalam proses pemusnahan ulat tersebut, petugasnya menghadapi sedikit hambatan. Pasalnya, posisi sarang ulat berada di ketinggian sehingga sulit dijangkau.
Untuk mengatasinya, petugas Damkar menggunakan teknik pembakaran menggunakan gas dan besi panjang. Upaya tersebut efektif menjangkau titik-titik sarang di dahan pohon yang tinggi.
Setelah titik dahan tercapai, petugas melanjutkannya dengan melakukan penyemprotan cairan insektisida secara menyeluruh. Hal itu untuk memastikan sisa-sisa ulat benar-benar musnah dan tidak menyebar kembali.
“Jika tidak segera ditangani, keberadaan ulat bulu ini mengancam kesehatan dan keselamatan warga. Selain risiko iritasi kulit dan reaksi alergi bagi penghuni rumah serta warga sekitar, populasi yang tidak terkendali dapat memicu gangguan pada pengguna jalan,” tukasnya. (*)