Washington, sorotkabar.com – Rencana perundingan nuklir AS-Iran kembali ke jalurnya setelah sempat terancam gagal karena Iran meminta perpindahan lokasi.
Berjalannya kembali perundingan itu disebut setelah beberapa pemimpin Timur Tengah melobi pemerintahan Trump pada Rabu sore agar tidak menindaklanjuti ancaman untuk menyerang Iran.
Hal ini dibocorkan dua pejabat AS kepada media AS Axios. Pembicaraan tersebut akan diadakan di Oman, seperti yang ditegaskan Iran, meskipun AS pada awalnya menolak perubahan rencana awal untuk bertemu di Istanbul.
Kebuntuan ini telah memicu kekhawatiran di Timur Tengah bahwa Presiden Trump akan beralih ke tindakan militer. Namun, setidaknya sembilan negara di kawasan ini telah menghubungi Gedung Putih dan mendesak AS untuk tidak membatalkan pertemuan tersebut.
"Mereka meminta kami untuk tetap mengadakan pertemuan dan mendengarkan apa yang dikatakan Iran. Kami telah mengatakan kepada negara-negara Arab bahwa kami akan melakukan pertemuan jika mereka bersikeras. Namun kami sangat skeptis," kata seorang pejabat AS.
Pejabat AS lainnya mengatakan pemerintahan Trump setuju untuk mengadakan pertemuan tersebut “untuk menghormati” sekutu AS di kawasan dan “untuk terus melanjutkan jalur diplomatik.”
Sebelumnya, AS dan Iran telah sepakat untuk bertemu pada hari Jumat di Istanbul, dengan negara-negara Timur Tengah lainnya berpartisipasi sebagai pengamat. Namun Iran mengatakan pada hari Selasa bahwa mereka ingin memindahkan pembicaraan ke Oman dan mengadakannya dalam format bilateral, untuk memastikan bahwa mereka hanya fokus pada masalah nuklir dan bukan masalah lain seperti rudal yang menjadi prioritas AS dan negara-negara di kawasan.
Para pejabat Amerika pada mulanya terbuka terhadap permintaan perubahan lokasi, kemudian menolaknya, sebelum berbalik arah lagi setelah Axios melaporkan bahwa pertemuan tersebut dibatalkan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkonfirmasi di X bahwa pembicaraan dijadwalkan akan diadakan di Muscat sekitar pukul 10 pagi hari Jumat. "Saya berterima kasih kepada saudara-saudara kita di Oman karena telah membuat semua pengaturan yang diperlukan," tulisnya.
Pembicaraan akan fokus pada tiga isu; pengayaan uranium, kemampuan rudal balistik, dan kelompok bersenjata di kawasan yang didukung oleh Iran.
Pemerintahan Trump mengatakan Iran tidak boleh melakukan pengayaan uranium di dalam negerinya. Teheran mengatakan pihaknya hanya bersedia membatasi pengayaan uranium hingga 20 persen.
Washington juga ingin Iran membatasi kemampuan rudal balistiknya, yang kini mencapai hingga 2.500 km, sehingga pangkalan militer Israel dan AS di wilayah tersebut dapat dijangkau.
Iran mengatakan rudal-rudal ini adalah bagian dari kemampuan pertahanan negaranya, merujuk pada serangan Israel pada bulan Juni yang menewaskan lebih dari 1.000 warga Iran.
Washington ingin Iran berhenti mendukung sekutu non-negara di kawasan – sebuah tuntutan yang didukung oleh Israel dan beberapa pemerintah Arab. Iran menolak argumen bahwa mendukung apa yang disebutnya sebagai “poros perlawanan” adalah tindakan yang mengganggu stabilitas.
Lalu ada program luar angkasa strategis Iran, yang bertugas mencapai swasembada Iran dalam desain satelit dan komunikasi. Washington, Israel dan pemerintah Barat lainnya telah menyuarakan keprihatinan mengenai program ini dan meningkatnya kerja sama antara Teheran dan Moskow.
Teheran mengatakan perundingan tersebut harus adil – dan harus mencakup pencabutan sanksi – yang telah menghancurkan perekonomiannya.
Presiden AS Donald Trump mengatakan ia ingin mencapai kesepakatan, meskipun pasukan AS yang ditempatkan di kawasan siap mencari alternatif lain.
Para pemain regional berharap upaya diplomatik mereka akan membawa Teheran dan Washington mencapai kesepakatan. Sebaliknya Israel terus menyiapkan skenario perang.
Pada Selasa, utusan Gedung Putih Steve Witkoff bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sekelompok pejabat senior pertahanan di Israel untuk mengoordinasikan posisi menjelang pembicaraan dengan Iran.
Para pejabat Israel mengatakan Witkoff telah diberi pengarahan tentang intelijen terbaru Israel mengenai Iran, dan Netanyahu menekankan bahwa Iran tidak dapat dipercaya.
Witkoff dan menantu Trump serta penasihatnya Jared Kushner diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Qatar pada Kamis untuk melakukan pembicaraan mengenai Iran dengan perdana menteri. Dari sana, mereka akan melakukan perjalanan ke Oman untuk bertemu dengan Iran.
Para pejabat AS mengatakan bahwa mengingat perilaku Iran dalam beberapa hari terakhir, dan kurangnya terobosan dalam perundingan sebelumnya, mereka masih skeptis bahwa kesepakatan akan tercapai.
"Kami tidak naif terhadap Iran. Jika memang ada perundingan yang nyata, kami akan melakukannya tetapi kami tidak akan membuang-buang waktu," kata pejabat AS.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Presiden Donald Trump memiliki beberapa opsi untuk berurusan dengan Iran, dan menekankan bahwa negaranya siap bertemu dengan Iran pada Jumat ini.
Dia menekankan bahwa Washington terbuka untuk berkomunikasi langsung dengan rezim Iran, bahwa Presiden Trump siap berkomunikasi dengan pihak manapun, dan bahwa dia tidak melihat hal ini sebagai sebuah konsesi.
Menteri Luar Negeri AS berpendapat bahwa membatasi perundingan pada satu isu saja tidak lagi cukup dari sudut pandang Washington, dan menekankan bahwa setiap perundingan dengan Iran harus mencakup diskusi mengenai isu rudal balistik.(*)