Dubai,sorotkabar.com – Ketegangan di kawasan Teluk kembali memuncak setelah enam kapal perang Iran dilaporkan berupaya menghentikan sebuah kapal tanker minyak berbendera Amerika Serikat di Selat Hormuz pada Selasa (3/2/2026) pagi. Insiden ini dikonfirmasi oleh pejabat AS dan sumber keamanan maritim kepada Wall Street Journal.
Kapal-kapal patroli Iran tersebut memerintahkan tanker untuk mematikan mesin dan bersiap untuk dinaiki (boarding). Namun, alih-alih menyerah, kapal tanker tersebut justru mempercepat laju dan segera dievakuasi ke zona aman di bawah pengawalan ketat kapal perang AS.
Perusahaan keamanan maritim Vanguard Tech melaporkan bahwa kapal-kapal patroli Iran yang mendekat dilengkapi dengan senjata meriam kaliber 50. Insiden ini terjadi tepat saat kapal memasuki jalur perairan paling strategis di dunia bagi pasokan energi global tersebut.
“Mengingat meningkatnya aktivitas militer dan ketegangan regional yang tinggi, potensi kesalahan penilaian tidak dapat diabaikan,” tulis Vanguard dalam catatan resmi kepada kliennya.
Lembaga UK Maritime Trade Operations (UKMTO) milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris juga membenarkan adanya upaya penghadangan oleh kapal-kapal kecil bersenjata. Data dari penyedia komoditas Kpler menunjukkan kapal tanker tersebut tengah berlayar dari Uni Emirat Arab menuju Bahrain, lokasi pangkalan angkatan laut AS yang sangat vital.
Insiden maritim ini meletus di tengah upaya diplomasi yang rapuh. Pejabat Iran dikabarkan mengancam akan menarik diri dari meja perundingan dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff, dan menantu Presiden Trump, Jared Kushner, yang dijadwalkan berlangsung di Turki pada Jumat mendatang.
Padahal sebelumnya, Presiden Trump sempat memberikan sinyal positif terkait potensi kesepakatan perdagangan dan penurunan tarif antara kedua negara. Namun, aksi provokasi di Selat Hormuz ini diprediksi akan mengubah peta perundingan secara drastis.
Sebagai respons atas provokasi tersebut, Washington telah memperkuat kehadiran militernya dengan mengerahkan gugus tempur Kapal Induk USS Abraham Lincoln, jet tempur siluman F-35, dansistem pertahanan rudal tambahan.
Garda Revolusi Islam (IRGC) bahkan dilaporkan membatalkan latihan tembak langsung di kawasan selat setelah menerima peringatan keras dari pihak AS.
Para analis memperingatkan bahwa setiap "salah kalkulasi" di Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga minyak dunia dan ketidakstabilan ekonomi global. Saat ini, kedua belah pihak masih memantau situasi dengan sangat ketat sembari menjalankan upaya militer dan diplomatik secara paralel.(*)