Dalihan Na Tolu dan Suhi na Opat sebagai Perisai Moral

Pelajaran Hidup dari Hikayat Jalus dan Siti Alus

Pelajaran Hidup dari Hikayat Jalus dan Siti Alus
KALAYO HASIBUAN

Oleh: KALAYO HASIBUAN
Dosen Pascasarjana UIN Suska Riau
Pemerhati Lingkungan & Kearifan Lokal
(Ketua Yayasan Anshor Putera Riau Sehati,
Ketua Parsadaan Hasibuan Riau,
Ketua Asosiasi Dosen dan Guru Bahasa Asing Indonesia)

A. Pendahuluan

Di tengah masyarakat modern yang kian cair nilai dan kabur batas, kearifan lokal sering kali direduksi menjadi sekadar simbol budaya—dipertontonkan dalam upacara, tetapi ditinggalkan dalam praktik hidup sehari-hari. Padahal, dalam tradisi Batak, falsafah Dalihan Na Tolu dan Suhi na Opat bukan hanya sistem kekerabatan, melainkan perisai moral yang membentuk manusia agar tahu diri, tahu tempat, dan tahu cara hidup bersama.

Sebagaimana dicatat oleh Vergouwen (1933) dan Simanjuntak (2009), struktur adat Batak sesungguhnya mengandung dimensi etika yang kuat, berfungsi sebagai pengatur relasi sosial sekaligus pengendali perilaku individu dalam masyarakat.

B. Hikayat Jalus dan Siti Alus sebagai Cermin Etik Hidup

Hikayat rakyat Jalus dan Siti Alus dari Liang Namuap memberi gambaran konkret bagaimana falsafah adat bekerja dalam kehidupan nyata. Kisah ini tidak menyajikan tokoh heroik dalam pengertian kekuasaan, melainkan manusia biasa yang hidup dengan ketepatan sikap dan kejernihan moral.

Melalui cerita lisan seperti ini, nilai-nilai adat diwariskan bukan lewat doktrin, tetapi melalui keteladanan dan pengalaman simbolik (Situmorang, 1986). Inilah kekuatan cerita rakyat sebagai media pendidikan etika yang kontekstual dan membumi.

C. Dalihan Na Tolu: Etika Relasional sebagai Fondasi Moral

Dalihan Na Tolu—secara harfiah berarti tungku berkaki tiga—mengajarkan bahwa kehidupan sosial hanya dapat tegak jika tiga relasi dijaga secara seimbang, yaitu:
    1.    Somba marhula-hula
(Menghormati pihak pemberi kehidupan)
    2.    Manat mardongan tubu (Berhati-hati dan adil terhadap yang sejajar)
    3.    Elek marboru
(Mengayomi dan membimbing pihak yang berada di bawah tanggung jawab)

Dalam hikayat, Jalus tidak digambarkan sebagai tokoh dominan, melainkan sebagai pribadi yang tepat menempatkan diri dalam setiap relasi. Inilah inti moral Dalihan Na Tolu: kebajikan tidak ditentukan oleh posisi tinggi, melainkan oleh ketepatan sikap.

Siti Alus melengkapi struktur ini dengan kelembutan aktif—ia tidak menentang tatanan, tetapi menghidupkannya dari dalam. Dengan demikian, Dalihan Na Tolu berfungsi sebagai rem etis terhadap kesombongan, kekerasan, dan kecenderungan individualistik (Nainggolan, 2012).

D. Suhi na Opat: Kesadaran Diri sebagai Pusat Tanggung Jawab

Jika Dalihan Na Tolu menjelaskan pola relasi, maka Suhi na Opat menyempurnakannya dengan satu unsur penting yang kerap terabaikan, yakni jalus (diri sendiri / hasuhuton).

Empat penjuru dalam Suhi na Opat meliputi:
    •    Hula-hula
    •    Dongan tubu
    •    Boru
    •    Jalus (diri sendiri)

Dalam konteks moral, ini menegaskan bahwa tidak ada adat tanpa tanggung jawab personal. Jalus dalam hikayat menjadi simbol manusia yang sadar bahwa ia bukan korban struktur sosial, melainkan poros yang menghidupkan struktur itu sendiri. Tanpa kesadaran diri, Dalihan Na Tolu berisiko berubah menjadi formalitas kosong (Simanjuntak, 2009).

Dengan demikian, Suhi na Opat berfungsi sebagai perisai moral yang mencegah manusia berlindung di balik adat untuk membenarkan kesalahan pribadi.

E. Kearifan Lokal sebagai Sistem Etika Kontekstual

Berbeda dengan moral universal yang cenderung abstrak, kearifan lokal Batak Toba bersifat:
    •    Relasional, karena berakar pada hubungan nyata;
    •    Situasional, karena peka terhadap konteks;
    •    Praktis, karena langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana dikemukakan Geertz (1983), pengetahuan lokal bekerja sebagai sistem makna yang lahir dari pengalaman kolektif. Hikayat Jalus dan Siti Alus menunjukkan bahwa etika tidak diajarkan melalui larangan keras, melainkan melalui teladan hidup. Anak-anak tidak dididik untuk menjadi hebat, tetapi untuk menjadi pantas.

Dalam konteks pendidikan modern, pendekatan ini menjadi penyeimbang penting bagi kurikulum yang terlalu menekankan capaian individual, namun sering melupakan kepantasan sosial dan tanggung jawab kolektif.

F. Dalihan Na Tolu dan Suhi na Opat sebagai Perisai Moral Zaman Kini

Sebagai perisai moral, Dalihan Na Tolu dan Suhi na Opat mengajarkan bahwa:
    •    Kekuasaan harus diimbangi dengan hormat,
    •    Kesetaraan harus dijaga dengan kehati-hatian,
    •    Kepemimpinan harus disertai pengayoman,
    •    Dan seluruhnya bermula dari kesadaran diri.

Di tengah krisis etika publik—korupsi, kekerasan verbal, dan runtuhnya kepercayaan sosial—kearifan lokal ini relevan bukan karena romantisme masa lalu, melainkan karena ketajaman moral dan daya kendalinya terhadap perilaku manusia.

G. Penutup

Hikayat Jalus dan Siti Alus bukan sekadar cerita rakyat, melainkan cermin etika hidup yang lahir dari pengalaman kolektif masyarakat. Dalihan Na Tolu memberi kerangka relasi, Suhi na Opat memberi pusat tanggung jawab, dan kearifan lokal memberi jiwa.

Selama manusia masih hidup bersama manusia lain, falsafah ini tidak akan pernah usang.

Daftar Pustaka

Geertz, C. (1983). Local knowledge: Further essays in interpretive anthropology. New York: Basic Books.

Nainggolan, T. (2012). Dalihan Na Tolu sebagai sistem etika sosial masyarakat Batak Toba. Jurnal Antropologi Indonesia, 33(2), 145–160.

Simanjuntak, B. A. (2009). Struktur sosial dan sistem kekerabatan Batak Toba. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Situmorang, S. (1986). Toba Na Sae: Sejarah dan kebudayaan Batak. Jakarta: Pustaka Jaya.

Vergouwen, J. C. (1933). The social organisation and customary law of the Toba-Batak of Northern Sumatra. The Hague: Martinus Nijhoff.(*)

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index