Dominasi Pembalap Spanyol-Italia di MotoGP Digoyang Kebijakan Baru

Dominasi Pembalap Spanyol-Italia di MotoGP Digoyang Kebijakan Baru
Pembalap MotoGP dari Spanyol dan Italia terlalu dominan dari segi jumlah dalam grid MotoGP. (MotoGP/DOK)

Jakarta,sorotkabar.com - Dominasi pembalap dari Spanyol dan Italia di MotoGP memang sulit dibantah. Dari 22 pembalap yang berlaga di grid utama, 15 di antaranya berasal dari kedua negara tersebut, mencakup persentase mengejutkan yaitu 68% dari total grid. 

Namun, Liberty Media, sebagai pemilik baru MotoGP, kini berupaya menggoyahkan statistik ini melalui skema insentif finansial baru yang akan mulai berlaku dari tahun 2026 hingga 2028. Kebijakan baru ini dirancang untuk mendorong tim dan pembalap dari negara-negara yang kurang terwakili di seluruh paddock (mulai dari Moto3, Moto2, hingga MotoGP) untuk mendapatkan kursi di ajang balap. 

Secara spesifik, negara dengan populasi resmi lebih dari 100.000 jiwa dan memiliki representasi kurang dari 10% di paddock (yang secara implisit hanya mengecualikan Spanyol dan Italia) akan mendapat insentif finansial hingga € 200.000. 

“Dana ini akan diberikan jika pembalap dari negara-negara tersebut mencapai kriteria kemenangan tertentu,” tulis Rideapart, Jumat (9/1/2026).

Insentif yang diperkenalkan Liberty Media ini langsung menuai kritik tajam. Kritik utama berpusat pada kekhawatiran bahwa kebijakan ini berpotensi menempatkan paspor di atas meritokrasi (kemampuan). Banyak yang khawatir insentif ini bisa menjadi cara dangkal untuk mencapai keragaman, yang mungkin saja menurunkan level kompetisi dengan memberikan kursi kepada pembalap yang kurang terampil, hanya demi mengejar uang tunai. 

Ini dianggap sebagai solusi "lempar uang" yang tidak menyentuh akar permasalahan. Kecurigaan juga muncul terhadap motif tersembunyi Liberty Media. Spekulasi kuat beredar bahwa langkah ini merupakan upaya strategis untuk meningkatkan jumlah pembalap dari Amerika Serikat (AS) menjelang potensi pembuatan serial dokumenter bergaya 'Drive to Survive', mirip dengan Formula 1. 

Tujuan akhirnya, disinyalir, adalah mengubah MotoGP menjadi mesin penghasil uang global yang jauh lebih besar. Meskipun tujuan untuk memperluas popularitas Grand Prix secara global disambut baik, kekhawatiran muncul bahwa pelaksanaannya dapat merusak integritas talenta yang ada.

Alasan utama di balik dominasi Spanyol dan Italia sangat mendasar yakni ekosistem balap akar rumput (grassroots racing) mereka yang sudah sangat mapan, terstruktur, dan mudah diakses. Italia, misalnya, sudah memiliki kejuaraan balap nasional bahkan sebelum Perang Dunia I. Sistem feeder yang kaya dan bersejarah inilah yang secara konsisten "memberi makan" grid MotoGP dengan talenta unggulan.

Banyak pihak menyarankan, untuk menyamakan kedudukan, Liberty Media seharusnya mengalihkan investasi ke balap akar rumput di luar Eropa. Dengan menyuntikkan dana langsung ke tahap pengembangan bakat di usia dini, pembalap non-Eropa akan tiba di Moto3 dengan kesiapan yang jauh lebih baik. Hal ini akan menjadikan persaingan lebih adil, murni didasarkan pada kemampuan, bukan sekadar paspor negara.

Sisi positif dari insentif kontroversial ini adalah adanya persyaratan prestasi yang ketat. Insentif ini tidak diberikan secara cuma-cuma, melainkan pembalap dari negara yang kurang terwakili tersebut harus menunjukkan hasil yang sangat baik.  Persyaratan ini berfungsi sebagai "penyelamat" agar kebijakan ini tidak sepenuhnya merusak meritokrasi. Namun, mengingat tim-tim Moto3 seringkali kekurangan dana, muncul kekhawatiran bahwa mereka akan sangat termotivasi untuk memilih pembalap yang "lemah" demi mengejar insentif ini, yang pada akhirnya merugikan pembalap yang lebih terampil yang seharusnya mendapatkan kursi balap tersebut.

Pembalap dari negara lain, seperti Jack Miller dari Australia, pernah berbagi dilema ini. Miller harus pindah ke Eropa pada usia 16 tahun untuk berkompetisi di seri balap Spanyol dan Jerman sebelum naik ke Moto3. Ia pernah menyatakan, "Saya tidak ingin itu didasarkan pada paspor saya, saya ingin itu didasarkan pada kecepatan saya." (*) 
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index