Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo Perkuat Tradisi Religius di Kalangan Siswa

Jumat, 17 April 2026 | 21:14:35 WIB
Dok RepublikaKepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo, Susilowati (kiri), Kepala Dinas Sosial dan PPPA Kota Probolinggo, Madihah (tengah), Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital, Farida Dewi Maharani (tengah), dan Kepada Dinas

Probolinggo,sorotkabar.com - Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo memperkuat tradisi religius di kalangan siswa dan siswi sebagai bagian dari pembentukan karakter sejak dini. 

Komitmen ini sejalan dengan harapan para orang tua yang menitipkan anak-anak mereka agar tetap mendapatkan pembinaan spiritual selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Selain pembelajaran akademik, kegiatan keagamaan seperti mengaji, sholat berjamaah, hingga pembiasaan ibadah harian menjadi bagian tidak terpisahkan dari rutinitas siswa-siswi, baik di lingkungan sekolah maupun asrama.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo, Susilowati mengatakan, sebelum anak-anak masuk Sekolah Rakyat, orang tuanya sudah menitipkan untuk tetap dibina spiritualnya. Orang tua mereka memberi syarat, boleh anak-anak masuk Sekolah Rakyat asalkan pendidikan spiritualnya tetap ada.

"Orang tua sudah menitipkan (ke Sekolah Rakyat), anak kami boleh ke Sekolah Rakyat asalkan ngajinya tidak berhenti, karena di sini daerah religius," kata Susilowati saat berbincang dengan Republika di Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo, Kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026)

Untuk menjaga amanah dari para orang tua siswa-siswi, Susilowati menyampaikan bahwa pada awal Sekolah Rakyat melakukan kegiatan belajar dan mengajar, disediakan tiga orang guru ngaji. Sekolah Rakyat tidak meninggalkan kebiasaan baik para siswa-siswi di rumah mereka. Dengan demikian, kecerdasan intelektual dan spiritualnya siswa-siswi dilatih secara bersama-sama. 

Ia menerangkan bahwa siswa-siswi dilatih akademiknya dan non akademiknya. Sekolah Rakyat juga fokus mencari bakat tiap-tiap anak, karena setiap anak ditangani langsung oleh wali asuh yang secatra bergantian berjaga di asrama selama 24 jam.

Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo saat ini memiliki 49 siswa-siswi SMP, 42 siswa-siswi SMA, 18 guru, 20 wali asuh, delapan wali asrama, enam orang cleaning service, enam orang security, dan tiga orang jurus masak.

"Wali asuh tugas dan fungsinya pengasuhan pada anak-anak, satu asli wasuh menangani lima anak, wali asuh mendampingi belajar anak, membantu anak yang kesulitan," ujar Susilowati.

Ia menyampaikan bahwa wali asuh benar-benar mendampingi anak-anak, mulai dari membantu anak-anak mengerjakan PR hingga mendampingi anak-anak mengatasi berbagai kendala dan masalah.

Untuk diketahui, kegiatan siswa-siswi Sekolah Rakyat dimulai pukul 04.00 - 04.15 dibangunkan untuk Sholat Subuh berjamaah. Pukul 04.15 - 04.30 Subuh berjamaah. Pukul 04.30 - 04.45 pembiasaan baca AIquran Surat Al Waqiah atau Surat Yasin. Pukul 04.30 - 05.30 murojaah khusus bagi siswa tahfidz.

Pukul 04.45 - 05.00 senam pagi. Pukul 05.00 - 06.00 kegiatan bersih diri dan kamar. Pukul 06.00 - 06.30 sholat Dhuha berjamaah dan istighosah. Pukul 06.30 - 06.45 makan pagi. Pukul 06.45 - 06.55 apel pagi.

Pukul 07.00 -12.00 belajar di sekolah, istirahat 15 menit pada pukul 10.15 - 10.30. Pukul 12.00-12.40 Ishoma. Pukul 12.40 - 14.40 belajar bagi siswa-siswi SMP, dan pukul 12.40 - 15.40 belajar di siswa-siswi SMA. Pukul 14.30 - 16.00 istirahat dan bersih diri untuk SMP, dan pukul 15.40 - 16.00 istirahat dan bersih diri untuk SMA.

Pukul 16.00 - 17.00 sholat Ashar berjamaah dan mengaji lqro (bagi yang haid tetap mengikuti kegiatan belajar menulis Arab). Pukul 17.00 - 17.30 persiapan sholat Maghrib. Pukul 17.30 - 19.00 sholat Maghrib dan Isya berjamaah dilanjutkan kajian, khusus Kamis membaca Yasin serta Tahlil, dan Jumat latihan Khithobah Multi Bahasa.

Pukul 19.00 - 19.30 makan malam. Pukul 19.30 - 20.30 wajib belajar didampingi wali asuh untuk mengontrol jurnal kegiatan masing-masing anak asuhnya. Pukul 20.30 - 21.30 kegiatan penyegaran anak dipantau dalam pemantauan wali asuh. Pukul 21.30 - 22.00 apel malam dan evaluasi kegiatan harian. Pukul 22.00 - 04.00 istirahat.

Sekolah Rakyat Hadirkan Pendidikan Holistik dan Pemberdayaan Keluarga

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Probolinggo, Madihah mengatakan, konsep 'terintegrasi' dalam Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 tidak hanya merujuk pada jenjang pendidikan yang mencakup SMP dan SMA dalam satu lokasi, tetapi juga pada pendekatan penyelesaian masalah secara menyeluruh melalui sinergi lintas perangkat daerah, instansi vertikal, serta dukungan pemerintah pusat.

Madihah menerangkan bahwa pelaksanaan program Sekolah Rakyat dibagi dalam tiga fase utama, yakni inisiasi, validasi, dan penguatan. Pada fase validasi, pemerintah bersama Badan Pusat Statistik (BPS) dan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) melakukan verifikasi langsung ke lapangan untuk memastikan siswa-siswi yang diterima di Sekolah Rakyat benar-benar berasal dari keluarga desil 1 dan desil 2 atau kategori paling miskin dan miskin.

“Prosesnya dilakukan door to door untuk memastikan ketepatan sasaran. Ini penting agar intervensi yang diberikan benar-benar menyentuh kelompok yang membutuhkan,” katanya.

Ia mengatakan, berbagai upaya dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pendidikan siswa, termasuk pendampingan psikososial melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga).

“Anak-anak ini memiliki latar belakang yang kompleks, sebagian bahkan menjadi tulang punggung keluarga, karena itu pendekatan yang dilakukan tidak bisa hanya pendidikan formal, tetapi juga pendampingan mental dan sosial,” ujar Madihah.

Perubahan yang cukup signifikan tampak pada meningkatnya kepercayaan diri dan pola pikir siswa-siswi setelah masuk Sekolah Rakyat. Sebelumnya mereka cenderung tidak memiliki harapan besar terhadap masa depan, kini mulai tumbuh cita-cita serta optimisme yang lebih kuat.

“Dulu ada yang bercita-cita sangat sederhana karena keterbatasan akses. Sekarang setelah mendapatkan pendidikan dan pendampingan (di Sekolah Rakyat), kepercayaan diri mereka tumbuh dan cara pandang terhadap masa depan berubah,” ujarnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Probolinggo juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Salah satunya dengan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang menyediakan peluang beasiswa bagi lulusan Sekolah Rakyat di Jawa Timur. Selain itu, pemerintah juga membuka akses pelatihan keterampilan dan menjajaki kemitraan dengan dunia usaha serta industri.

“Bagi yang melanjutkan pendidikan tinggi sudah ada skema beasiswa. Sementara yang tidak, kami arahkan ke pelatihan keterampilan dan peluang kerja melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk program dari Kementerian Ketenagakerjaan,” ujar Kepala Dinas Sosial ini.

Ia menerangkan bahwa intervensi juga menyasar orang tua siswa-siswi. Dinas Sosial memberikan pelatihan keterampilan seperti laundry dan pengolahan makanan, disertai dukungan peralatan dan akses permodalan. Hingga saat ini, sekitar 60 dari 100 orang tua telah mengikuti pelatihan tersebut.

Langkah ini bertujuan agar keluarga memiliki sumber penghasilan mandiri, sehingga anak yang tadinya ikut jadi tulang punggu keluarga kini dapat fokus menjalani pendidikan di Sekolah Rakyat.

“Pendekatan kami dari hulu ke hilir. Tidak hanya anak yang dibina, tetapi orang tua juga diberdayakan. Harapannya, pengentasan kemiskinan bisa dilakukan secara holistik dan berkelanjutan,” kata Madihah.

Dengan berbagai inovasi yang telah dilakukan, Sekolah Rakyat di Kota Probolinggo kini menjadi salah satu rujukan bagi daerah lain yang ingin mengembangkan program serupa. Pemerintah optimistis, model ini dapat melahirkan generasi unggul dari keluarga prasejahtera dan menjadi bagian penting dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Untuk diketahui, Sekolah Rakyat merupakan program pendidikan gratis dari pemerintah Indonesia bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem (desil 2 dan desil 1), yang bertujuan menekan angka putus sekolah dan meningkatkan kualitas pendidikan, dengan target pembangunan 104 sekolah tahap II rampung sebelum Juni 2026.

Sekolah Rakyat Terintegrasi 7 Probolinggo merupakan sekolah berasrama untuk jenjang SMP dan SMA yang hadir sejak Juli 2025 di Kelurahan Mayangan, Kota Probolinggo. Mengusung konsep pendidikan terintegrasi, sekolah ini tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan kehidupan sehari-hari siswa. Program ini ditujukan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang diseleksi secara ketat. 

Fasilitas Sekolah Rakyat ini dilengkapi dengan tenaga psikolog, konselor, dan terapis yang bekerja penuh waktu. Pendampingan dilakukan untuk menangani anak-anak dengan kebutuhan khusus, baik fisik maupun mental. Sekolah Rakyat ini juga didukung oleh Dinas Sosial, Kementerian Agama, Kodim, Polres, hingga organisasi sosial seperti Taruna Siaga Bencana dan Program Keluarga Harapan sebagai bagian dari upaya mencetak generasi muda yang tangguh dan berdaya saing.(*)

Halaman :

Terkini