Iran Pasang Syarat Keras, Hormuz Tetap Ditutup Jika Gencatan Dilanggar

Iran Pasang Syarat Keras, Hormuz Tetap Ditutup Jika Gencatan Dilanggar
Aktivitas kapal di perairan Selat Hormuz di dekat Khasab, sebuah kota kecil di Oman utara, Sabtu (20/6/2026). ANTARA/Xinhua/Wen Xinnian/aa.

Teheran,sorotkabar,.com - Iran dikabarkan belum akan membuka kembali Selat Hormuz selama gencatan senjata di Lebanon belum sepenuhnya dihormati. Sikap tegas tersebut disampaikan sumber yang dekat dengan tim negosiator Iran kepada kantor berita semiresmi Tasnim, Minggu (22/6).

Menurut sumber tersebut, Teheran menganggap stabilitas Lebanon sebagai salah satu syarat utama dalam proses normalisasi situasi kawasan. Jika serangan Israel di Lebanon terus berlanjut dan kedaulatan wilayah Lebanon tidak dijamin, Iran disebut tidak akan melanjutkan pembahasan isu-isu strategis lainnya, termasuk terkait jalur pelayaran internasional.

Selain menuntut penghentian konflik di Lebanon, Iran juga mengajukan sejumlah syarat lain sebelum membuka kembali Selat Hormuz. Di antaranya adalah pembebasan sebagian aset Iran yang selama ini dibekukan, pelaksanaan penuh nota kesepahaman (MoU) perdamaian yang baru ditandatangani dengan Amerika Serikat, pencabutan blokade laut AS terhadap Iran, serta pemberian pengecualian bagi ekspor minyak, petrokimia, dan produk energi Iran.

Sumber itu menegaskan bahwa pencabutan blokade laut semata tidak cukup untuk mendorong Teheran membuka akses penuh di salah satu jalur energi terpenting dunia tersebut.

Pernyataan ini muncul di tengah berlangsungnya perundingan penting antara Iran dan Amerika Serikat di Swiss. Delegasi Iran dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf, Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi, dan Wakil Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Ali Bagheri Kani.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, melalui akun X miliknya menegaskan bahwa Teheran bertekad memastikan Washington menjalankan seluruh komitmen yang tercantum dalam MoU perdamaian.

Sebelumnya, Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump menandatangani nota kesepahaman perdamaian pada 18 Juni. Kesepakatan tersebut kemudian diumumkan secara resmi oleh Teheran, Washington, dan Islamabad.

Ketegangan kawasan meningkat sejak 28 Februari, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan ke Teheran dan sejumlah wilayah Iran. Sebagai balasan, Iran menggempur target-target Israel serta aset militer AS di Timur Tengah menggunakan rudal dan drone.

Di tengah eskalasi tersebut, Iran memperketat kontrol atas Selat Hormuz dengan melarang kapal yang dimiliki atau berafiliasi dengan Israel dan AS melintas. Kebijakan itu langsung memicu perhatian dunia mengingat sekitar seperlima perdagangan minyak global melewati jalur strategis tersebut.

Kini, nasib Selat Hormuz tampaknya tidak hanya bergantung pada hasil negosiasi Iran-AS, tetapi juga pada perkembangan situasi keamanan di Lebanon yang menjadi salah satu tuntutan utama Teheran.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index