Iran dan AS Kembali Memanas, Serangan di Selat Hormuz Bayangi Damai

Iran dan AS Kembali Memanas, Serangan di Selat Hormuz Bayangi Damai
Ilustrasi Selat Hormuz. (Gemini AI/Istimewa)

Iran,sorotkabar.com - Target utama meliputi kapal-kapal kecil Iran yang diduga sedang memasang ranjau laut serta beberapa lokasi peluncuran rudal di wilayah selatan Iran.

Langkah militer ini langsung menarik perhatian internasional karena berlangsung bersamaan dengan proses diplomasi yang masih berjalan di Qatar. Sejumlah analis menilai operasi terbaru tersebut berpotensi memperumit proses menuju kesepakatan damai permanen antara AS dan Iran.

Centcom Sebut Serangan sebagai Langkah Defensif
Menurut keterangan resmi militer AS, kapal-kapal Iran yang menjadi sasaran diduga tengah melakukan pemasangan ranjau di jalur strategis Selat Hormuz.

Juru bicara Centcom Kapten Tim Hawkins mengatakan militer AS tetap melindungi pasukan mereka sambil menahan diri selama masa gencatan senjata yang masih berlangsung antara kedua negara.

Pernyataan tersebut menunjukkan Washington berupaya menampilkan operasi ini sebagai langkah pengamanan dan bukan eskalasi menuju perang berskala penuh.

Kapten Hawkins menjelaskan serangan dilakukan di area dekat Bandar Abbas, kota pelabuhan penting di selatan Iran yang juga menjadi lokasi pangkalan angkatan laut Iran di sekitar Selat Hormuz.

Laporan New York Times menyebut media Pemerintah Iran sebelumnya mengabarkan adanya penyelidikan setelah warga mendengar suara ledakan di wilayah Bandar Abbas.

Selain menyasar kapal-kapal kecil milik Garda Revolusi Iran atau IRGC, pasukan AS juga menghantam sejumlah lokasi peluncuran rudal permukaan ke udara yang dinilai berpotensi mengancam operasi udara dan kapal perang AS di kawasan. Centcom menegaskan seluruh operasi dilakukan secara terbatas dan tetap bersifat defensif.

Negosiasi Damai AS-Iran Masih Berjalan di Tengah Eskalasi
Meski situasi militer memanas, proses diplomatik antara kedua negara ternyata belum berhenti. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka, meski proses negosiasi kemungkinan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.

Sebelumnya pada Sabtu (23/5/2026), Presiden AS Donald Trump sempat mengisyaratkan kedua pihak hampir mencapai titik temu. Namun kemudian ia menginstruksikan tim negosiator agar tidak terburu-buru menyelesaikan perjanjian.

Rubio juga sempat menyebut kesepakatan berpotensi tercapai pada Senin lalu. Pada sisi lain, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei menyatakan memang terdapat kemajuan dalam sebagian besar isu yang dibahas.

Meski demikian, pihak Iran menegaskan belum ada dasar untuk menyimpulkan penandatanganan perjanjian sudah berada dalam tahap final.

Dokumen nota kesepahaman yang sedang dibahas disebut mencakup sejumlah poin penting, termasuk perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari, pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian serangan Israel ke Lebanon, serta kelanjutan negosiasi mengenai program nuklir Iran.

Beberapa laporan internasional juga menyebut pembahasan mencakup kemungkinan pencairan dana Iran yang selama ini dibekukan di luar negeri sebagai bagian dari kompromi diplomatik. Namun hingga kini belum ada pengumuman resmi mengenai kesepakatan akhir.

Donald Trump kembali menegaskan setiap perjanjian nantinya harus memuat pembatasan penuh terhadap program nuklir Iran. Sementara itu, Teheran tetap menolak tuntutan yang dianggap terlalu menguntungkan pihak Washington.

Respons Iran Masih Ditunggu Seusai Serangan Terbaru
Hingga saat ini Iran belum memberikan tanggapan resmi atas serangan terbaru AS tersebut. Setelah operasi berlangsung, Marco Rubio kembali menegaskan peluang tercapainya kesepakatan damai masih terbuka.

Ia merujuk pada agenda pertemuan Selasa (26/5/2026) antara negosiator utama, menteri luar negeri Iran dan perdana menteri Qatar. Rubio menyatakan Presiden Donald Trump masih menginginkan jalur diplomasi terus berjalan.

Saat ditanya mengenai blokade Selat Hormuz, Rubio menegaskan jalur pelayaran tersebut harus tetap dibuka. Ia menyebut penutupan jalur tersebut tidak dapat diterima karena melanggar hukum internasional dan berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global.

Laporan CBS News menyebut intelijen AS meyakini Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang dilaporkan terluka pada serangan Israel di awal konflik kini berada di lokasi rahasia.

Kondisi tersebut disebut menyulitkan komunikasi dengan para utusan Iran dan ikut memperlambat laju negosiasi dengan AS. Akibatnya, pembicaraan yang berlangsung diperkirakan belum akan menghasilkan penyelesaian akhir dalam waktu dekat.

Sejumlah isu sensitif kemungkinan dibahas pada tahap berikutnya, termasuk mekanisme pencabutan sanksi terhadap Iran, pencairan dana yang dibekukan, serta tuntutan AS terkait pembatasan ambisi nuklir Iran.

Sebelumnya, Donald Trump juga mendorong negara-negara Timur Tengah dan sejumlah negara lain untuk ikut menandatangani Kesepakatan Abraham setelah perang dengan Iran berakhir.

Trump mengaku telah membahas rencana tersebut melalui sambungan telepon dengan para pemimpin Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Pakistan, Turki, Mesir, dan Bahrain.

Meski begitu, seorang sumber dari Arab Saudi mengatakan kepada CNN, posisi negara tersebut terhadap kesepakatan tersebut masih belum berubah.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index