Perundingan AS-Iran Buntu, Washington Klaim Posisi Lebih Kuat

Perundingan AS-Iran Buntu, Washington Klaim Posisi Lebih Kuat
EPA/NADEEM KHAWARRanger Pakistan berpatroli di jalan sebagai pengamanan menjelang pembicaraan damai antara Iran dan AS, di Hyderabad, Pakistan, 10 April 2026.

Teheran,sorotkabar.com — Kegagalan mencapai kesepakatan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran dinilai lebih merugikan Teheran dibandingkan Washington, demikian menurut Wakil Presiden AS JD Vance.

“Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Saya pikir ini merupakan kabar yang jauh lebih buruk bagi Iran dibandingkan bagi Amerika Serikat,” kata Vance kepada wartawan usai perundingan.

Vance yang merupakan Ketua Delegasi AS dalam pembicaraan dengan Iran di Islamabad, Pakistan, juga menyampaikan bahwa AS telah menunjukkan fleksibilitas yang cukup selama proses negosiasi. Ia menegaskan bahwa Washington telah dengan jelas menyampaikan garis merah serta ruang kompromi dalam perundingan tersebut.

Menurut Vance, Iran memutuskan untuk tidak menerima persyaratan yang diajukan oleh AS. “Mereka telah memilih untuk tidak menerima syarat kami,” ujarnya kepada wartawan setelah pembicaraan.

Ia menambahkan bahwa AS tetap berharap Iran berkomitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dalam jangka panjang.

“Pertanyaannya sederhana, apakah kita melihat komitmen mendasar dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir, bukan hanya sekarang atau dua tahun ke depan, tetapi untuk jangka panjang? Kami belum melihatnya. Kami berharap akan melihatnya,” kata Vance.

Vance juga menegaskan bahwa tawaran yang diajukan AS dalam perundingan terbaru merupakan tawaran final dan terbaik.

“Kami meninggalkan tempat ini dengan usulan yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan tawaran final dan terbaik kami,” ujarnya di Islamabad usai perundingan.

Ia kembali menekankan bahwa posisi AS telah disampaikan secara jelas dalam negosiasi tersebut.

“Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja garis merah kami, hal-hal yang dapat kami akomodasi dan yang tidak dapat kami akomodasi. Namun, mereka memilih untuk tidak menerima syarat kami,” kata Vance.

Perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menghasilkan kesepakatan, dengan isu Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perbedaan.

Vance menyatakan tidak ada kesepakatan yang tercapai setelah memimpin delegasi AS dalam pembicaraan tatap muka dengan pihak Iran di Pakistan. Ia mengatakan kepada wartawan bahwa dirinya kembali ke AS tanpa membawa hasil kesepakatan.

Perundingan berlanjut hingga hari kedua pada Ahad (12/4), di tengah kondisi gencatan senjata sementara yang disepakati pekan lalu antara AS dan Iran yang dinilai semakin rapuh. Pihak Iran diwakili oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Qalibaf.

Media Iran menyebut perbedaan pandangan, termasuk terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menjadi hambatan utama dalam perundingan.

Media CNN, mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa status Selat Hormuz tidak akan berubah kecuali Iran dan AS mencapai “kerangka bersama” untuk melanjutkan negosiasi. Ia juga menyebut tuntutan berlebihan dari pihak AS telah menghambat jalannya perundingan.

Penutupan secara efektif terhadap Selat Hormuz oleh Iran telah mengguncang pasar global dan mendorong lonjakan harga energi, mengingat jalur sempit tersebut menjadi rute penting bagi pengangkutan minyak mentah, gas alam cair, serta pupuk ke Asia dan kawasan lainnya. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut.

Presiden AS Donald Trump telah mendesak Iran untuk menjamin kelancaran pelayaran kapal melalui selat tersebut, menyusul kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu yang dicapai pekan lalu.

Namun, gencatan senjata tersebut dinilai rapuh, dengan Israel masih melanjutkan serangan terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon yang didukung Iran, yang menurut AS tidak termasuk dalam cakupan kesepakatan tersebut.

Di tengah perundingan yang dimediasi Pakistan, Selat Hormuz tetap menjadi agenda utama. Militer AS menyatakan dua kapal perusak Angkatan Lautnya telah melintasi jalur tersebut sebagai persiapan operasi pembersihan ranjau, klaim yang dibantah oleh Iran.

Ranjau yang dilaporkan dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran menimbulkan kekhawatiran bahwa diperlukan waktu untuk menjamin jalur aman bagi kapal tanker dan kapal lainnya, bahkan jika blokade Iran berakhir.

Dalam perundingan tersebut, Vance didampingi utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner, menantu Presiden Trump. Sementara dari pihak Iran juga hadir Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index