Thailand Umumkan Tiga Pelautnya Meninggal Usai Kapal Kargo Dihantam Rudal di Selat Hormuz

Thailand Umumkan Tiga Pelautnya Meninggal Usai Kapal Kargo Dihantam Rudal di Selat Hormuz
EPA/ROYAL THAI NAVYKapal kargo berbendera Thailand Mayuree Naree terbakar setelah terkena rudal Iran di Selat Hormuz, Iran, 11 Maret 2026 .

Bangkok,sorotkabar.com -- Menteri Luar Negeri Thailand Sihasak Phuangketkeow, Rabu (8/4/2026), menyatakan tiga pelaut Thailand yang berada di kapal kargo Mayuree Naree meninggal dunia setelah kargo tersebut dihantam rudal di Selat Hormuz. Adapun, 20 awak kapal lainnya berhasil diselamatkan.

"Dengan kesedihan mendalam, saya harus mengonfirmasi bahwa tiga pelaut Thailand yang tetap berada di atas kapal kargo Thailand Mayuree Naree, yang dihantam rudal di Selat Hormuz dan kemudian terbakar, telah meninggal dunia," kata Menlu Phuangketkeow kepada wartawan.

Phuangketkeow menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu penyelamatan 20 awak lain yang berhasil meninggalkan kapal yang terbakar dan dibawa pulang oleh personel angkatan laut Oman bekerja sama dengan Angkatan Laut Kerajaan Thailand. Dia menyebut penyelamatan itu sebagai bagian dari kerja sama diplomatik internasional antara Thailand dan beberapa negara lainnya.

Pada 11 Maret lalu, kapal kargo Mayuree Naree dihantam rudal saat melewati Selat Hormuz. Rudal tersebut mengenai ruang mesin, tempat tiga pelaut berada pada saat serangan. Mereka tidak dapat menyelamatkan diri bersama anggota kru lainnya.

Kapal tersebut hanyut menuju pantai Iran dan terdampar di dekat salah satu pulau Iran. Petugas penyelamat Iran berhasil menemukan jenazah ketiga warga negara Thailand yang tewas ketika kapal tersebut diserang. 

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Rabu, menyatakan bahwa Iran akan membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz selama dua pekan. Akses tersebut hanya dapat dilakukan melalui koordinasi dengan angkatan bersenjata Iran dan tetap tunduk pada pembatasan teknis.

"Selama dua pekan, lintasan aman di Selat Hormuz akan dimungkinkan dengan koordinasi bersama Angkatan Bersenjata Iran dan memperhatikan keterbatasan teknis," tulis Araghchi di platform X.

Sehari sebelumnya, Selasa (7/4/2026), Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata bilateral selama dua pekan dengan Iran. Sebagai bagian dari kesepakatan itu, Teheran juga menyetujui pembukaan Selat Hormuz.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran kemudian menegaskan bahwa perundingan dengan AS akan dimulai pada Jumat mendatang di Islamabad, Pakistan. Menurut Dewan Keamanan Nasional Iran, kesepakatan dengan AS mencakup sejumlah poin penting, antara lain Iran tetap memegang kendali atas Selat Hormuz, pencabutan seluruh sanksi terhadap Teheran, kelanjutan program pengayaan uranium, serta penarikan seluruh pasukan AS dari Timur Tengah.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index