Terjepit Harga Kedelai, Perajin Tempe Perkecil Ukuran Produk

Terjepit Harga Kedelai, Perajin Tempe Perkecil Ukuran Produk
Pengrajin tahu tempe “Sari Murni” di Jalan Ahmad Yani, Denpasar Utara, Bali. (Beritasatu.com/Sopian Hadi)

Denpasar,sorotkabar.com - Kenaikan harga kedelai impor mulai berdampak pada pegrajin tahu dan tempe di Denpasar, Bali. Kondisi ini dipicu ketidakpastian ekonomi global akibat konflik geopolitik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat.

Para perajin tahu dan tempe mengungkapkan, harga kedelai sebagai bahan baku utama terus mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir, sehingga memengaruhi biaya produksi.

Salah satu perajin tahu tempe “Sari Murni” di Jalan Ahmad Yani, Denpasar Utara, Syaifudin Zuhri, mengatakan dirinya menggunakan dua jenis kedelai, yakni dari Kamboja dan Amerika Serikat, yang keduanya mengalami kenaikan harga.

"Yang jenis Kamboja sebelumnya saya beli dengan harga Rp 10.600 per kilogram, saat ini sudah di kisaran Rp 12.000. Kalau kedelai jenis Amerika, harga sebelumnya Rp 11.600 menjadi Rp 12.500," kata Zuhri.

Meski biaya produksi meningkat, Syaifudin memilih tidak menaikkan harga jual. Sebagai gantinya, ia mengurangi ukuran tempe yang diproduksi.

"Dengan kenaikan harga kedelai, kami lakukan pengurangan takaran atau ukuran tempe yang kita jual," akunya.

Dalam sehari, usaha “Sari Murni” mampu memproduksi sekitar 2.500 tempe dengan berbagai ukuran. Produk tersebut dipasarkan di pasar tradisional serta menyuplai hotel dan restoran di Denpasar dan Kabupaten Badung.

Tak hanya kedelai, harga bahan pendukung seperti plastik kemasan juga mengalami kenaikan. Zuhri berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan baku agar usaha kecil tetap bertahan.

"Harapan kami sebagai pengrajin tahu tempe, semoga pemerintah bisa mendengar keluhan masyarakat kecil agar lebih diperhatikan dan harga kedelai bisa kembali normal," sambungnya.(*)

Halaman

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index