Washington,sorotkabr.com - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) mengajukan permintaan anggaran fantastis sebesar US$ 3 miliar atau sekitar Rp 51,2 triliun untuk pengadaan 785 rudal Tomahawk pada tahun fiskal 2027.
Angka ini melonjak tajam lebih dari 14 kali lipat dibandingkan pengajuan tahun sebelumnya.
Melansir laporan USNI News, proposal anggaran 2027 ini juga mencakup pembelian 540 rudal anti-pesawat SM-6 senilai US$ 4,33 miliar. Jumlah ini meningkat tiga kali lipat dari permintaan tahun lalu yang hanya sebanyak 166 rudal.
Selain rudal jelajah, militer AS mengusulkan pembelian 494 rudal udara-ke-udara AIM-120 AMRAAM (Advanced Medium-Range Air to Air Missile) senilai US$ 804 juta. Pemerintah juga membidik 141 torpedo berat Mark 48 dengan alokasi dana mencapai US$ 571 juta.
Langkah pengadaan besar-besaran ini diambil di tengah kekhawatiran menipisnya stok persenjataan AS. Konflik berkepanjangan di Timur Tengah memaksa militer AS menghabiskan banyak amunisi untuk membendung kekuatan lawan.
Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) mencatat, hingga Maret 2026, AS telah meluncurkan sekitar 850 rudal Tomahawk dalam konflik dengan Iran. Ini merupakan penggunaan Tomahawk terbesar dalam satu konflik sejak Perang Teluk 1991.
Rudal Tomahawk dikenal memiliki jangkauan hingga 2.500 km dan dapat diluncurkan dari kapal permukaan maupun kapal selam. Sementara SM-6 merupakan tulang punggung pertahanan udara armada laut AS yang juga memiliki kemampuan anti-kapal.
Pakar pertahanan dari American Enterprise Institute, Todd Harrison, menyebut Washington memang perlu memperkuat stok amunisi secara masif. Namun, ia memperingatkan bahwa industri pertahanan dalam negeri saat ini sedang kewalahan memenuhi permintaan tersebut dalam waktu singkat.
Untuk mengatasi kendala produksi, pemerintahan Trump berencana menggunakan rancangan undang-undang rekonsiliasi anggaran federal. Skema ini memungkinkan militer AS mendapatkan dana di muka dan menyebar proses pengadaan selama beberapa tahun.
"Pada dasarnya, mereka mengamankan uang di muka agar industri memiliki/ kepastian dalam memproduksi amunisi mahal ini," jelas Harrison.(*)