Jakarta,sorotkabar.com - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan, kenaikan harga pupuk global yang dipicu oleh lonjakan harga energi di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah berisiko memicu inflasi pangan.
Berdasarkan data Bank Dunia, pergerakan harga pupuk global cenderung mengikuti harga gas alam sebagai input utama produksi. Harga kontrak berjangka urea bahkan sempat mencapai sekitar US$ 684 per ton, level tertinggi sejak Oktober 2022, dan telah naik lebih dari 70% sejak awal tahun.
Dari sisi pasokan, risiko gangguan juga meningkat seiring ketegangan di kawasan Iran yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan melalui Selat Hormuz. Kawasan Teluk diketahui menyumbang porsi besar dalam pasokan pupuk global, termasuk sekitar 46% untuk urea serta lebih dari sepertiga untuk pupuk nitrogen dan fosfat.
"Dengan struktur pasar yang terkonsentrasi, gangguan di kawasan tersebut tidak hanya berpotensi meningkatkan biata, tetapi juga berisiko mengganggu ketersediaan pupuk secara global," tulis Indef dalam risetnya, dikutip Minggu (5/4/2026).
Bagi Indonesia, tekanan global ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah dan ketergantungan terhadap impor pupuk. Kenaikan harga internasional berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah.
Dalam APBN 2026, pemerintah telah mengalokasikan anggaran subsidi pupuk sebesar Rp 46,9 triliun. Namun, angka tersebut dinilai berisiko tidak cukup untuk menahan lonjakan biaya.
"Apabila hal ini terus berlanjut, maka dapat meningkatkan biaya produksi pertanian dan juga berpotensi mendorong inflasi pangan," tulis Indef. (*)