Ancaman Trump atas Greenland Berpotensi Guncang Eksistensi NATO

Ancaman Trump atas Greenland Berpotensi Guncang Eksistensi NATO
Warga setempat berdiri di atas tumpukan salju saat pemilihan parlemen, di Nuuk, Greenland, pada 11 Maret 2025. (AP/Evgeniy Maloletka)

Brussels,sorotkabar.com - Ancaman terbaru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Greenland menghadirkan tantangan baru dan dinilai belum pernah terjadi sebelumnya bagi NATO. 

Bahkan, situasi ini berpotensi menjadi ancaman eksistensial bagi aliansi militer tersebut, yang selama ini dibangun untuk menghadapi ancaman eksternal.

Gedung Putih menyatakan pemerintah AS tengah mempertimbangkan berbagai “opsi” terkait Greenland, termasuk kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Pulau kaya mineral dan strategis itu merupakan wilayah semi-otonom yang menjadi bagian dari Denmark, salah satu anggota NATO.

Ketertarikan Trump terhadap Greenland dinilai dapat membahayakan masa depan NATO, yang didirikan pada 1949 untuk menghadapi ancaman keamanan di Eropa. Selama ini, aliansi tersebut berfokus pada ancaman dari luar, seperti Rusia atau kelompok teror internasional, dan sangat bergantung pada kepemimpinan serta kekuatan militer Amerika Serikat.

NATO dibangun berdasarkan prinsip Pasal 5, yang menyatakan bahwa serangan terhadap satu anggota akan dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota. Namun, mekanisme itu dinilai tidak akan berfungsi jika satu negara anggota justru menargetkan anggota lainnya.

Dalam unggahan di media sosial pada Rabu, Trump menulis, “Rusia dan China tidak takut sama sekali terhadap NATO tanpa Amerika Serikat.” Meski demikian, ia menambahkan, “Kami akan selalu ada untuk NATO, bahkan jika mereka tidak akan ada untuk kami.”

Ancaman AS meningkat pada Selasa setelah Gedung Putih mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut Greenland sebagai “prioritas keamanan nasional.” Pemerintah AS juga menolak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer.

“Presiden dan timnya sedang membahas berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang penting ini, dan tentu saja, penggunaan militer AS selalu menjadi pilihan yang tersedia bagi panglima tertinggi,” demikian pernyataan Gedung Putih.

Peneliti senior German Marshall Fund of the United States, Ian Lesser, menyebut pernyataan tersebut sebagai “sangat mencolok.”

“Ini adalah peristiwa dengan probabilitas rendah, tetapi konsekuensi tinggi jika itu terjadi. Namun peluangnya telah berubah, sehingga makin sulit menganggap ini hanya sebagai gertakan dari Gedung Putih,” ujarnya.

Pernyataan itu muncul setelah para pemimpin Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, dan Spanyol menyatakan dukungan terhadap kedaulatan Greenland bersama Denmark.

Mereka menegaskan, “Adalah wewenang Denmark dan Greenland, dan hanya mereka, untuk memutuskan hal-hal yang menyangkut Denmark dan Greenland.”

Kanada juga menyampaikan dukungan serupa, mengingat peran strategis Greenland bagi pertahanan Amerika Utara sejak Perang Dunia II.

Sementara itu, NATO memilih bersikap hati-hati. Seorang pejabat aliansi, yang berbicara dengan syarat anonim, menegaskan pentingnya kawasan Arktik bagi keamanan kolektif.

“Arktik adalah wilayah penting bagi keamanan kolektif kita, dan NATO memiliki kepentingan yang jelas dalam menjaga keamanan, stabilitas, dan kerja sama di kawasan utara,” kata pejabat tersebut.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen memperingatkan, ancaman AS harus ditanggapi secara serius. Ia menilai, jika satu negara NATO menyerang negara anggota lainnya, maka hal tersebut dapat berarti akhir dari aliansi itu.

Ketegangan ini muncul pada saat NATO tengah berupaya menjaga persatuan dalam menghadapi perang di Ukraina. Analis pertahanan European Policy Center, Maria Martisiute, menilai kredibilitas NATO kini dipertaruhkan.

“Ketika anggota aliansi terkemuka melemahkan anggota lain, hal itu merusak kohesi dan kredibilitas NATO, dan hanya menguntungkan musuh kita seperti Rusia dan China,” ujarnya.(*) 
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index