New York,sorotkabar.com – Mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro menyatakan tidak bersalah atas tuduhan kejahatan narkotika dalam sidang di pengadilan federal Manhattan, New York, pada Senin (5/1/2025).
Penangkapan Maduro oleh Amerika Serikat atas perintah Presiden Donald Trump memicu keguncangan politik global serta membuat pemerintahan di Caracas segera mengatur ulang strategi kekuasaan.
“Saya presiden Republik Venezuela dan saya diculik di sini sejak 3 Januari 2025, hari Sabtu,” kata Maduro di hadapan pengadilan melalui penerjemah bahasa Spanyol.
“Saya ditangkap di rumah saya di Caracas, Venezuela,” katanya.
“Saya tidak bersalah. Saya tidak terbukti bersalah. Saya orang baik. Saya masih presiden negara saya,” ujar Maduro (63), sebelum pernyataannya dihentikan oleh Hakim Distrik Amerika Serikat Alvin Hellerstein.
Istri Maduro, Cilia Flores, juga mengajukan pembelaan tidak bersalah. Pengadilan menjadwalkan sidang lanjutan pada 17 Maret 2026 mendatang.
Di luar gedung pengadilan, puluhan demonstran pro dan anti-Maduro berkumpul menjelang sidang singkat yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut.
Beberapa jam kemudian di Caracas, Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara Venezuela. Dalam pidatonya, Rodriguez menyampaikan dukungan kepada Maduro, tanpa memberikan sinyal akan melawan langkah Amerika Serikat secara langsung.
Penilaian intelijen Amerika Serikat menyebutkan Rodriguez sebagai figur yang paling berpeluang memimpin pemerintahan sementara selama ketidakhadiran Maduro.
Laporan Wall Street Journal, mengutip sumber yang mengetahui dokumen rahasia tersebut, menyebut tokoh oposisi seperti peraih Nobel Perdamaian Maria Corina Machado atau mantan kandidat presiden Edmundo Gonzalez akan kesulitan memperoleh legitimasi politik.
Meski penangkapan Maduro dianggap sebagai momentum oleh kelompok oposisi, Presiden Trump tampak mengesampingkan peran mereka untuk sementara. Trump justru mengisyaratkan bahwa Rodriguez terbuka untuk bekerja sama dengan Washington.
Sementara itu, para pejabat senior pemerintahan Maduro yang telah berkuasa selama 13 tahun masih mengendalikan roda pemerintahan Venezuela, negara penghasil minyak dengan populasi sekitar 30 juta jiwa. Mereka menunjukkan sikap campuran antara perlawanan dan kemungkinan kerja sama dengan pemerintahan Trump.
Penilaian intelijen AS menyebut Rodriguez, bersama menteri dalam negeri dan menteri pertahanan, sebagai tokoh kunci yang mampu menjaga stabilitas di tengah pemerintahan yang mayoritas berseberangan secara ideologis dengan Amerika Serikat.
Pada hari yang sama, Jorge Rodriguez, saudara Delcy Rodriguez, kembali ditunjuk sebagai Ketua Majelis Nasional yang dikuasai pendukung Maduro. Ia berjanji menggunakan semua prosedur, forum, dan ruang untuk membawa Maduro kembali ke Venezuela.
Trump kepada NBC News menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak sedang berperang dengan Venezuela. “Kita sedang berperang dengan orang-orang yang menjual narkoba,” katanya.
Trump juga menilai Venezuela perlu distabilkan terlebih dahulu sebelum pemilihan umum baru digelar. Ia menyebut tenggat 30 hari untuk pemilu sebagai hal yang tidak realistis. “Kita harus memperbaiki negara ini dulu. Pemilu tidak bisa diadakan,” ujarnya.
Maduro didakwa mengawasi jaringan perdagangan kokain internasional yang bekerja sama dengan kelompok bersenjata, termasuk kartel Sinaloa dan Zetas dari Meksiko, pemberontak FARC Kolombia, serta geng Tren de Aragua Venezuela.
Ia menghadapi empat dakwaan pidana, yakni terorisme narkoba, konspirasi impor kokain, serta kepemilikan senapan mesin dan alat perusak.
Maduro selama ini membantah tuduhan tersebut dan menyebutnya sebagai kedok ambisi imperialis Amerika Serikat terhadap cadangan minyak Venezuela.(*)