Investasi Emas Makin Terjangkau, Bisa Mulai Setara Harga Kopi

Senin, 13 April 2026 | 20:44:25 WIB
Dok RepublikaPekerja menunjukkan emas yang dijual Bank Syariah Indonesia (BSI) di ajang Bullion Connect 2025 di Jakarta. (ilustrasi)

Jakarta,sorotkabar.com -- Investasi emas kini kian mudah dijangkau masyarakat, termasuk anak muda yang mulai mencari instrumen keuangan sederhana dengan modal kecil. Emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai kini bisa dibeli dengan nominal setara harga secangkir kopi.

Bank Syariah Indonesia (BSI) mendorong peningkatan literasi investasi emas melalui layanan bank emas yang diharapkan bisa lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat. Akses pembelian emas kini dapat dilakukan secara digital melalui aplikasi BYOND by BSI.

Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan, emas menjadi salah satu instrumen yang cocok untuk dikenalkan ke generasi muda karena mudah dipahami dan relatif stabil.

“Anak-anak muda Indonesia harus didorong untuk mulai melek investasi syariah dengan cara yang mudah, aman, dan memiliki prospek yang baik, salah satunya melalui emas,” ujarnya, dikutip Senin (13/4/2026).

Melalui layanan tersebut, masyarakat dapat mulai membeli emas dengan nominal sekitar Rp 50 ribu, dengan harga mengikuti pergerakan pasar harian. Cara ini membuat investasi emas tidak lagi identik dengan kebutuhan modal besar.

BSI juga mengemas pendekatan edukasi dengan lebih sederhana agar lebih mudah diterima anak muda. Investasi emas bahkan disebut bisa dimulai “semudah membeli secangkir kopi”.

Selain berbentuk digital, emas yang dibeli juga bisa dicetak menjadi fisik, ditransfer antar rekening emas, hingga digadaikan saat kebutuhan mendesak.

“Emas bisa menjadi tabungan, bisa dicetak, dan juga bisa menjadi solusi saat kondisi darurat,” kata Cahyo.

Hingga Februari 2026, BSI mencatat pengelolaan emas mencapai sekitar 22,5 ton dengan pertumbuhan nasabah yang meningkat signifikan sejak layanan bank emas diluncurkan.

Perseroan juga terus memperluas literasi keuangan syariah melalui kerja sama dengan kampus dan berbagai lembaga, dengan harapan semakin banyak masyarakat, terutama anak muda, mulai membangun kebiasaan investasi sejak dini.

Airlangga: Investasi Emas Berpotensi Untung Besar

Beberapa waktu lalu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut investasi emas memberikan potensi keuntungan yang besar. Dalam setahun terakhir, kenaikan harga emas disebut bisa mencapai sekitar 60 persen.

Menurut Airlangga, kinerja emas dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan instrumen tersebut menjadi pilihan investasi yang menarik bagi masyarakat. “Kalau investasi di emas ini setahun sudah 60 persen kenaikannya. Jadi mau investasi di mana lagi, Pak Pandu? Ini terbukti dari BSI maupun Pegadaian,” ujar Airlangga dalam peluncuran Indonesia Bullion Ecosystem Roadmap di Jakarta.

Ia juga menyinggung kinerja PT Pegadaian yang dinilai cukup kuat dalam bisnis emas. Perusahaan pelat merah itu mencatat rasio pengembalian aset (return on assets/ROA) sekitar 6,7 persen.

Selain itu, jumlah nasabah emas Pegadaian juga terus bertambah. Saat ini tercatat sekitar 5,7 juta nasabah dengan total tabungan emas mencapai 19,25 ton.

Airlangga mengatakan, total emas yang dikelola Pegadaian bahkan mencapai sekitar 141,7 ton. Menurut dia, angka tersebut lebih besar dibandingkan emas yang dikelola Bank Indonesia.

“Jadi pengelolaan emas Pegadaian ini lebih tinggi dari Bank Indonesia. Jadi silakan diakuisisi, Bu Destry,” kata Airlangga.

Saat ini pemerintah sedang mendorong penguatan ekosistem bullion bank di Indonesia. Hingga kini terdapat dua penyelenggara utama, yakni PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI).

Direktur Utama Pegadaian Damar Latri Setiawan mengatakan, aset perusahaan pada 2025 mencapai Rp 152 triliun. Sementara outstanding pembiayaan tercatat sekitar Rp 126 triliun atau tumbuh 40 persen.

Pegadaian juga membukukan laba bersih Rp 8,35 triliun pada 2025, meningkat lebih dari 42 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“ROA yang diminta Bapak Presiden minimal 7 persen. Kami sekarang mendekati, sekitar 6 sampai 7 persen. ROI-nya juga cukup menggiurkan, sekitar 21 persen,” kata Damar.(*)

Halaman :

Terkini