Pertamina NRE Garap Peluang Biometanol Dari Limbah Sawit

Rabu, 08 April 2026 | 21:22:44 WIB
ANTARA/HO-PertaminaPertamina dan Toyota berkolaborasi melakukan uji coba bahan bakar bioetanol 100 persen

Jakarta,sorotkabar.com - Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menjajaki pengembangan bisnis biometanol dari biogas melalui kerja sama dengan perusahaan teknologi bersih asal Singapura, CRecTech Pte. Ltd.

Langkah itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman untuk mengeksplorasi pembangunan fasilitas percontohan konversi biogas menjadi biometanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatra.

Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina NRE memperluas portofolio energi hijau berbasis sumber daya domestik. Biogas yang diolah dari limbah kelapa sawit dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi bahan bakar hijau bernilai tambah, sekaligus membuka peluang Indonesia masuk lebih jauh ke rantai pasok energi bersih global.

CEO Pertamina NRE John Anis mengatakan, kolaborasi tersebut menjadi langkah konkret perusahaan dalam mengakselerasi pemanfaatan biogas menjadi produk energi yang lebih bernilai. Menurut dia, potensi pengembangannya cukup besar karena ditopang pasar dan ketersediaan bahan baku di dalam negeri.

“Kolaborasi ini merupakan langkah konkret Pertamina NRE dalam mengakselerasi pemanfaatan biogas menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti biometanol,” kata John dalam keterangan resmi, Rabu (8/4/2026).

Ia menuturkan, salah satu kekuatan utama Indonesia terletak pada ketersediaan limbah kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Bahan baku tersebut dinilai dapat menjadi fondasi penting untuk membangun rantai nilai bahan bakar hijau yang kompetitif dan berkelanjutan.

Pertamina NRE dan CRecTech akan memulai kerja sama ini melalui studi bersama untuk mengevaluasi kelayakan pengembangan fasilitas percontohan di KEK Sei Mangkei. Jika hasil kajian menunjukkan prospek yang baik, kolaborasi akan dilanjutkan dengan penerapan teknologi katalitik CRecREF™ milik CRecTech pada Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) Sei Mangkei.

John menyampaikan, Pertamina NRE tidak ingin inisiatif tersebut berhenti di tahap awal. Perusahaan membidik peluang agar pengembangan biogas menjadi biometanol dapat ditingkatkan menuju skala komersial yang lebih besar.

“Ke depan, kami berharap inisiatif ini tidak hanya berhenti pada tahap percontohan, tetapi dapat segera ditingkatkan ke level komersial yang lebih besar,” ujar dia.

CRecTech merupakan perusahaan teknologi bersih berbasis di Singapura yang mengembangkan teknologi konversi gas berbasis karbon menjadi bahan kimia dan bahan bakar bernilai tinggi. Dalam proyek ini, perusahaan tersebut membawa teknologi katalitik yang dirancang untuk mengolah aliran biogas berkualitas rendah langsung di lokasi produksi.

CEO CRecTech Kang Hui Lim menjelaskan, pendekatan teknologi tersebut memungkinkan proses konversi dilakukan tanpa kebutuhan investasi sebesar pabrik metanol konvensional. Menurut dia, hal itu membuka peluang pemanfaatan biogas yang selama ini belum sepenuhnya diolah menjadi produk komersial bernilai tinggi.

“Potensi biogas di Indonesia sangat besar, dan Pertamina NRE merupakan mitra yang tepat untuk mengubah keunggulan sumber daya tersebut menjadi pasokan biometanol yang bernilai komersial,” jelas Kang Hui Lim.

Pengembangan bisnis ini juga dinilai sejalan dengan pergeseran kebutuhan energi global, terutama di sektor pelayaran yang mulai beralih dari bahan bakar konvensional menuju bahan bakar rendah karbon. Biometanol dipandang memiliki peluang masuk sebagai bagian dari solusi dekarbonisasi sektor maritim yang kini bergerak ke penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.

555 dalam RRT, potensi pasokan= biogas terutama berasal dari pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil
ve d Mill Effluent (POME). Pertamina NRE telah mengidentifikasi sejumlah lokasi dalam portofolionya yang memiliki ketersediaan bahan baku dalam skala besar, termasuk Sei Mangkei.

Pengembangan rantai nilai biogas menjadi biometanol ini diharapkan dapat mendorong KEK Sei Mangkei menjadi salah satu pusat produksi bahan bakar hijau di Indonesia. Langkah itu juga dinilai berpotensi memberi dampak ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan investasi, dan optimalisasi pemanfaatan energi terbarukan di dalam negeri.(*) 
 

Terkini