Sampit,sorotkabar.com - Badan Klimatologi Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melalui Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit mengungkapkan cuaca panas cukup tinggi kurang lebih sepekan terakhir merupakan pengaruh siklon tropis narelle.
“Kotim saat ini masih musim hujan, tapi beberapa hari ini terjadi siklon tropis narelle yang menyebabkan konsentrasi massa udara ke wilayah tersebut dan menyebabkan sulitnya terbentuk awan hujan,” kata Prakirawan BMKG Kotim Mitra Hutauruk di Sampit, Sabtu.
Ia menjelaskan, sejak pertengahan Maret 2026, siklon tropis narelle memang terpantau aktif di selatan Indonesia, tepatnya di sekitar Samudra Hindia dan memberi dampak tidak langsung terhadap cuaca di berbagai wilayah.
Siklon tropis narelle adalah sistem badai kuat yang terbentuk dari bibit siklon 96P di Samudra Hindia. Meskipun tidak melintas langsung, siklon ini menarik konsentrasi massa udara ke arah selatan, menjauhi wilayah Kalimantan Tengah.
Hal ini menyebabkan penurunan pembentukan awan hujan atau berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Kalimantan Tengah, termasuk Kotawaringin Timur.
“Kondisi ini akan berakhir dalam beberapa hari ke depan seiring dengan berakhirnya siklon tersebut,” tambahnya.
Meski bersifat sementara, dampak dari siklon tropis narelle cukup terasa di wilayah Kotim. Bukan hanya suhu udara yang meningkat, kemunculan titik panas (hotspot) dan potensi terjadinya kebakaran juga meningkat seiring dengan terjadinya kekeringan di beberapa wilayah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim melaporkan beberapa kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dalam sepekan terakhir, di antaranya berlokasi di Jalan Ir Soekarno Kecamatan Baamang dan Desa Bengkuang Makmur Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengimbau masyarakat untuk tidak membakar lahan, karena saat ini intensitas hujan berkurang sehingga karhutla sangat rawan terjadi.
Imbauan untuk tidak membakar lahan merupakan upaya pencegahan dini yang terus digencarkan pemerintah daerah. Harapannya, masyarakat ikut peduli sehingga kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap bisa dicegah.
“Tanah di Kotawaringin Timur ini sebagian merupakan gambut. Saat kemarau, gambut sangat mudah kering dan terbakar, sementara pemadamannya cukup sulit karena biasanya api membakar hingga ke dalam tanah meski di permukaan sudah padam. Makanya pencegahan ini kita optimalkan,” demikian Multazam.(*)