Krisis Energi dan AI Dorong Asia Tenggara Kembali Lirik Nuklir

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:41:09 WIB
IEAIlustrasi reaktor nuklir modular.

Jakarta,sorotkabar.com — Energi nuklir kembali mendapat perhatian serius di Asia Tenggara ketika negara-negara di kawasan ini bersiap menghadapi lonjakan kebutuhan listrik, terutama untuk menopang pertumbuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).

Sejumlah negara mulai menghidupkan kembali rencana nuklir yang sempat tertunda dan menetapkan target ambisius. Jika terealisasi, hampir setengah negara di kawasan ini berpotensi memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir pada dekade 2030-an. Bahkan, negara yang belum memiliki rencana konkret pun mulai menunjukkan ketertarikan.

Hingga kini, Asia Tenggara belum pernah menghasilkan listrik dari energi nuklir, meskipun ambisi tersebut telah lama ada. Namun kondisi ini berpotensi berubah seiring meningkatnya tekanan untuk menurunkan emisi penyebab perubahan iklim sekaligus memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.

Para analis menilai konflik di Iran turut menegaskan kerentanan pasokan energi Asia, sehingga memperkuat urgensi mencari alternatif selain minyak dan gas. Lonjakan harga minyak mentah akibat konflik tersebut juga mendorong negara-negara mempercepat upaya pengembangan nuklir.

“Konflik yang meningkat telah memicu motivasi negara untuk mempercepat program nuklir mereka,” kata Alvie Asuncion-Astronomo dari Philippine Nuclear Research Institute, Kamis (26/3/2026).

Pekan ini, Vietnam dan Rusia menandatangani kerja sama untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan energi kawasan. Di Asia Selatan, Bangladesh juga mempercepat pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir barunya yang juga didukung Rusia untuk mengatasi kekurangan energi.

Menurut International Energy Agency (IEA), Asia Tenggara akan menyumbang sekitar seperempat pertumbuhan permintaan energi global pada 2035. Salah satu pendorong utama adalah menjamurnya pusat data, dengan lebih dari 2.000 fasilitas tersebar di Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan Filipina, menurut lembaga kajian Ember.

Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah. Fenomena ini terlihat jelas di Malaysia, yang menargetkan diri sebagai pusat komputasi AI di Asia Tenggara dan telah menarik investasi dari perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Google, dan Nvidia.

Kebangkitan minat terhadap energi nuklir di Asia Tenggara juga mencerminkan tren global. Hampir 40 negara, termasuk Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan Cina, bergabung dalam upaya global untuk melipatgandakan kapasitas energi nuklir hingga tiga kali lipat pada 2050.

Menurut World Nuclear Association, Asia Tenggara diperkirakan menyumbang hampir seperempat dari total kapasitas 157 gigawatt yang dihasilkan oleh negara-negara baru pengguna nuklir pada pertengahan abad ini.

“Ada momentum baru yang lebih serius dan terus berkembang untuk pengembangan energi nuklir di Asia Tenggara,” kata King Lee dari asosiasi tersebut.

Lima dari 11 negara anggota ASEAN—Indonesia, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina—kini aktif mengejar pengembangan energi nuklir.

Vietnam tengah membangun dua pembangkit listrik tenaga nuklir dengan dukungan perusahaan negara Rusia, Rosatom. Perdana Menteri Pham Minh Chinh menyebut proyek ini sebagai proyek strategis nasional. Revisi undang-undang energi atom Vietnam juga mulai berlaku pada Januari.

Indonesia memasukkan energi nuklir dalam rencana energi barunya tahun lalu, dengan target membangun dua reaktor modular kecil pada 2034. Pemerintah menyebut Kanada dan Rusia telah mengajukan proposal kerja sama formal.

Thailand menargetkan penambahan kapasitas nuklir sebesar 600 megawatt pada 2037. Otoritas listrik negara itu menyebut nuklir sebagai solusi menjanjikan untuk menyediakan listrik yang cukup, terjangkau, dan bersih.

Filipina menjadi negara dengan keterlibatan nuklir paling lama di kawasan, setelah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir pada 1970-an yang tidak pernah dioperasikan. Tahun lalu, negara itu membentuk otoritas regulasi energi atom baru dan menargetkan penggunaan nuklir pada 2032.

“Kami tidak memperkirakan listrik nuklir akan murah pada tahap awal,” kata Asuncion-Astronomo. Namun dalam jangka panjang, energi nuklir dinilai dapat meningkatkan keandalan, keamanan, dan kemandirian energi.

Negara lain seperti Kamboja, Singapura, dan Brunei juga mulai membuka peluang. Singapura tengah mengkaji potensi nuklir, sementara Brunei menyatakan sedang menjajaki opsi tersebut secara hati-hati kepada Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Lonjakan pusat data menjadi salah satu faktor utama peningkatan kebutuhan energi. Fasilitas ini berupa bangunan besar tanpa jendela yang dipenuhi komputer berkapasitas tinggi. IEA mencatat satu pusat data AI dapat mengonsumsi listrik setara 100.000 rumah tangga.

Malaysia menjadi contoh paling menonjol. Negara ini memiliki lebih dari 500 pusat data yang beroperasi, sekitar 300 dalam tahap pembangunan, dan lebih dari 1.000 lainnya direncanakan. Pemerintah Malaysia kembali mengaktifkan program nuklir tahun lalu dan menargetkan pembangkit pertama beroperasi pada 2031.

“Banyak industri berkembang di Malaysia, mulai dari pusat data, semikonduktor hingga pertambangan. Semuanya membutuhkan energi,” kata Zayana Zaikariah dari Institute of Strategic & International Studies di Kuala Lumpur.

Amerika Serikat turut mendukung upaya ini. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menandatangani kesepakatan kerja sama nuklir sipil dengan Malaysia tahun lalu. Presiden Donald Trump juga mendorong peningkatan kapasitas nuklir untuk memenuhi kebutuhan pusat data, dengan target peningkatan empat kali lipat dalam 25 tahun ke depan.

Namun, risiko energi nuklir tetap menjadi perhatian. Kekhawatiran terkait keselamatan, limbah, dan pasokan masih membayangi, terutama setelah bencana nuklir Chernobyl pada 1986 dan Fukushima pada 2011.

Meski demikian, Jepang yang sempat menghentikan seluruh reaktornya pascabencana Fukushima kini mulai mengoperasikan kembali pembangkitnya.

Bridget Woodman dari Zero Carbon Analytics mengingatkan dalam kondisi dunia yang semakin jauh dari target iklim, nuklir bisa terlihat lebih menarik dibandingkan alternatif lain yang lebih rendah risiko seperti energi terbarukan.

Negara-negara Asia Tenggara yang mempertimbangkan pengembangan industri nuklir dari nol, menurutnya, harus memperhitungkan kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Di tengah kebutuhan energi yang terus melonjak dan tekanan untuk menekan emisi, pilihan terhadap energi nuklir di Asia Tenggara kini berada di persimpangan antara peluang dan risiko. (*)

Halaman :

Terkini