Perang Tinggalkan Polusi Beracun, Dampaknya Bisa Bertahan Puluhan Tahun

Jumat, 27 Maret 2026 | 23:20:25 WIB
EPA/ABEDIN TAHERKENAREHSeorang anggota Bulan Sabit Merah Iran berjalan ketika asap masih mengepul dari Kilang Minyak Shahran menyusul serangan udara di Teheran, Iran, 8 Maret 2026.

Teheran, sorotkabar.com — Para pakar memperingatkan dampak lingkungan akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran berpotensi bertahan hingga puluhan tahun. 

Kerusakan kilang minyak, fasilitas energi, hingga infrastruktur sipil disebut menghasilkan polusi beracun yang mengancam kesehatan manusia dan ekosistem dalam jangka panjang.

Serangan terhadap fasilitas minyak, pangkalan militer, dan bangunan sipil menghasilkan racun kimia, logam berat, serta pencemar udara dan air yang berdampak luas, termasuk terhadap sektor pertanian. Pakar menilai konflik ini tidak hanya memicu krisis kemanusiaan tetapi juga kemunduran besar dalam perlindungan lingkungan kawasan.

Direktur United Nations University Institute for Water, Environment and Health Kaveh Madani mengatakan, kebakaran fasilitas energi menjadi sumber utama pencemaran. “Semua kilang minyak dan gas yang terbakar di area pesisir, semua kapal dan tanker minyak yang terbakar atau (tenggelam) di sana, semua itu menghasilkan polusi,” kata Madani, Rabu (27/3/2026).

Madani menjelaskan dampak perang berpotensi memundurkan kemajuan perlindungan lingkungan selama bertahun-tahun. Direktur Conflict and Environment Observatory Doug Weir mengatakan, catatan sementara menunjukkan skala kerusakan lingkungan sangat besar meski pengumpulan data masih terbatas.

Lembaga berbasis di Inggris itu menggunakan pencitraan satelit dan sumber intelijen terbuka untuk memantau dampak konflik terhadap masyarakat, ekosistem, dan lahan pertanian. Weir mengatakan, pihaknya telah mencatat lebih dari 400 kejadian lingkungan yang mengkhawatirkan terkait perang.

Ia menambahkan sebagian besar kerusakan belum teridentifikasi akibat keterbatasan citra satelit dan gangguan internet di Iran. Serangan terhadap fasilitas minyak dan gas dinilai menimbulkan risiko lingkungan paling serius karena merusak kualitas udara, tanah, dan air serta meningkatkan ancaman kesehatan masyarakat.

Weir mengatakan dampak serangan di fasilitas militer juga sulit diukur karena banyak lokasi runtuh dan tertimbun tanah. Ia menyebut masih terdapat ketidakpastian besar mengenai risiko pencemaran di area tersebut.

Dampak lingkungan terlihat jelas ketika serangan udara menghantam infrastruktur minyak Iran hingga menyebabkan langit menghitam di sekitar kilang dan memicu hujan hitam di wilayah Teheran dua pekan lalu. Campuran jelaga, abu, dan bahan kimia di atmosfer mendorong pemerintah Iran meminta warga tetap berada di dalam ruangan.

Partikel mikroskopis dari jelaga meningkatkan risiko gangguan paru-paru dan jantung, sementara bahan kimia beracun meningkatkan potensi kanker serta kontaminasi tanah dan sumber air. Para pakar menilai pecahan rudal dan kerusakan fasilitas industri lain berpotensi memperluas pencemaran lintas wilayah.

Kepala Kebijakan Iklim dan Air Timur Tengah United Nations University Institute of Water, Environment and Health Mohammed Mahmoud mengatakan, serangan terhadap fasilitas industri berisiko menghasilkan bahan kimia berbahaya. “Jika anda menyerang pabrik amonia untuk pupuk atau pabrik yang memproduksi pangan, maka (serangan itu) akan menghasilkan bahan kimia yang jelas sangat beracun dan berbahaya bila tersebar,” kata Mahmoud.

Selain pencemaran langsung, perang juga meningkatkan emisi gas rumah kaca akibat tingginya penggunaan bahan bakar fosil dalam operasi militer. Platform penghitungan karbon Greenly memperkirakan militer AS saja telah menghasilkan hampir 2 miliar metrik ton emisi gas rumah kaca dalam enam hari pertama konflik.

Jumlah tersebut sangat besar jika dibandingkan dengan total emisi global tahunan yang mencapai sekitar 50 miliar metrik ton menurut data Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS. Kenaikan harga energi akibat perang juga mendorong sejumlah negara kembali meningkatkan penggunaan batu bara yang memperparah polusi udara dan krisis iklim.

Para pakar juga menyoroti risiko terhadap fasilitas desalinasi di kawasan Teluk Persia yang menjadi sumber utama air minum di negara-negara beriklim kering. Serangan atau pencemaran pada fasilitas tersebut berpotensi memicu krisis air bersih jangka panjang.

Iran menyatakan serangan udara AS merusak salah satu fasilitas desalinasi miliknya, sementara Bahrain menuduh Iran merusak fasilitas serupa. Para ahli khawatir instalasi air lainnya menjadi target jika konflik terus berlanjut.

“(Masyarakat di wilayah tersebut) kesulitan mendapatkan akses air minum bersih, bahkan di masa damai, kerusakan apa pun pada infrastruktur air dapat berdampak jangka panjang,” kata Madani.

Weir menambahkan polusi minyak dari kapal tenggelam dan sumber lainnya berpotensi menyumbat fasilitas desalinasi atau melumpuhkan operasinya akibat gangguan listrik. Ia juga memperingatkan pencemaran dapat merusak perikanan, terumbu karang, padang lamun, serta ekosistem sensitif di kawasan Teluk Persia.

“Ini adalah cekungan tertutup, cukup dangkal, ada habitat sensitif di sana, terumbu karang, padang lamun, spesies sensitif yang dapat terdampak,” kata Weir.(*) 
 

Terkini