Dua Anak Harimau Benggala Mati, Kemenhut Diminta Audit Kebun Binatang Bandung

Jumat, 27 Maret 2026 | 22:53:36 WIB
ANTARA FOTO/Raisan Al FarisiInduk Harimau Benggala (Panthera Tigris Tigris) menjaga dua anaknya yang baru lahir di Kebun Binatang Bandung, Bandung, Jawa Barat, Senin (18/8/2025).

Jakarta,sorotkabar.com — Lembaga konservasi lingkungan dan satwa Geopix mendesak Kementerian Kehutanan mengaudit menyeluruh kondisi satwa di Kebun Binatang Bandung setelah kematian dua anak Harimau Benggala. 

Desakan ini muncul untuk memastikan standar kesejahteraan satwa dan pengelolaan lembaga konservasi berjalan sesuai aturan.

Senior Wildlife Campaigner Geopix Annisa Rahmawati mengatakan, audit harus dilakukan secara independen dan transparan oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. “Kami mendesak Direktorat Jenderal KSDAE untuk tidak hanya melakukan evaluasi administratif, tetapi segera melakukan audit independen menyeluruh dan transparan terhadap kondisi kesehatan, pakan, kandang, dan manajemen satwa,” kata Annisa melalui keterangan resmi, Jumat (27/3/2026).

Annisa menegaskan, apabila ditemukan pelanggaran serius maka langkah tegas termasuk opsi relokasi satwa perlu segera diambil. Ia menilai kematian satwa di lembaga konservasi mencerminkan kegagalan sistem pengelolaan dan pengawasan yang tidak boleh diabaikan.

“Dua anak Harimau Benggala yang mati karena virus boleh jadi mencerminkan krisis kesejahteraan satwa yang tidak boleh terus dinormalisasi,” kata Annisa.

Geopix menilai Kementerian Kehutanan memiliki tanggung jawab penuh memastikan kesejahteraan satwa, standar pengelolaan, serta pengawasan lembaga konservasi berjalan sesuai prinsip konservasi internasional dan hukum nasional. Audit dinilai penting untuk mencegah kasus serupa terulang.

Organisasi tersebut juga menyebut insiden kematian satwa menambah daftar persoalan tata kelola di Kebun Binatang Bandung yang belum terselesaikan secara transparan.

Geopix meminta langkah mitigasi segera dilakukan untuk mencegah penularan virus ke satwa lain, terutama dari famili Felidae, serta mengantisipasi potensi zoonosis yang dapat berdampak pada manusia.

“Kami juga mengingatkan bahwa lembaga konservasi seperti kebun binatang bukanlah tempat wisata eksploitasi satwa liar, melainkan ruang perlindungan bagi populasi satwa liar,” kata Annisa.

Sebelumnya, dua anak Harimau Benggala bernama Hara dan Huru mati di Kebun Binatang Bandung akibat infeksi virus Feline Panleukopenia setelah sempat mengalami sejumlah gejala penyakit sebelum akhirnya mati.(*) 
 

Terkini