Jakarta,sorotkabar.com – Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berdampak pada pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi di daerah hingga mencapai triliunan rupiah.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengungkapkan sebagian besar anggaran BGN disalurkan langsung ke daerah melalui mekanisme virtual account yang terhubung dengan satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) di seluruh Indonesia.
“Sebanyak 93% anggaran BGN disalurkan langsung dari Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) melalui virtual account ke seluruh SPPG yang saat ini berjumlah 25.574 unit. Program ini mendorong pemerataan distribusi dana ke berbagai daerah,” ujar Dadan dalam keterangan resmi di Jakarta, dikutip dari Antara, Sabtu (21/3/2026).
Dadan menjelaskan, setiap SPPG rata-rata menerima dana sekitar Rp 1 miliar per bulan yang kemudian berputar di wilayah masing-masing. Skema ini dinilai efektif dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Sebagai contoh, di Jawa Barat yang telah memiliki sekitar 5.000 SPPG, perputaran dana diperkirakan mencapai Rp5 triliun setiap bulan.
“Jika satu SPPG menerima sekitar Rp 1 miliar per bulan, maka dengan 5.000 SPPG di Jawa Barat, total perputaran dana mencapai Rp 5 triliun per bulan. Dalam 2,5 bulan terakhir, uang yang beredar diperkirakan mencapai Rp 11 miliar hingga Rp 12 triliun,” jelasnya.
Menurut Dadan, perputaran dana tersebut berkontribusi signifikan terhadap penguatan ekonomi daerah, sekaligus menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi pelaku usaha lokal dan masyarakat.
Program MBG sendiri menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus mendorong pemerataan ekonomi di berbagai wilayah Indonesia.
Testimoni Positif
Hal positif tersebut salah satunya dirasakan, Jamilah Sholih, pelaku usaha kuliner yang terlibat dalam program MBG. Jamilah mengaku sempat meragukan implementasi program MBG pada awalnya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menilai program tersebut berjalan dan memberikan dampak nyata.
“Saya memang sempat berpikir program ini sulit dijalankan tetapi sekarang terbukti berjalan, bahkan saya ikut terlibat,” ujarnya dalam video yang diunggah di akun TikTok pada Jumat (20/3/2026).
Jamilah, yang dikenal dengan sapaan Mbak Sholik, menyebut keputusannya untuk terlibat dalam program MBG juga dipengaruhi latar belakangnya sebagai pelaku usaha kuliner. Ia melihat peluang sekaligus manfaat sosial dari program tersebut.
“Walaupun dahulu saya tidak memilih Pak Prabowo, bukan berarti saya tidak bisa ikut menyukseskan program ini. Ini untuk kepentingan masyarakat luas,” katanya.
Menurut dia, salah satu dampak positif program MBG adalah penyerapan tenaga kerja. Ia menyebut satu dapur MBG dapat melibatkan sekitar 50 orang warga, terutama mereka yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan.
“Banyak yang sebelumnya tidak memiliki penghasilan, kini bisa bekerja dan mendapatkan pemasukan dari dapur MBG. Ini tentu hal yang baik,” ujarnya.
Selain itu, Jamilah juga menilai program MBG turut mendorong pergerakan ekonomi, khususnya di sektor pertanian.
Ia mengamati adanya peningkatan penyerapan hasil panen seperti sayur-mayur yang sebelumnya kurang terserap pasar.
“Sekarang hasil pertanian lebih terserap. Ini membuat petani kembali bersemangat untuk menanam,” tuturnya.
Meski demikian, ia menegaskan dukungannya tidak bersifat mutlak. Jamilah mengaku tetap akan memberikan catatan kritis terhadap pelaksanaan program MBG sebagai bagian dari upaya perbaikan. “Kritik tetap diperlukan, tetapi tujuannya untuk perbaikan bersama, bukan untuk menyudutkan,” ucapnya.(*)