Sana, sorotkabar.com - Militan Houthi di Yaman dilaporkan RIA Novosti pada Jumat (20/3/2026), menimbang kemungkinan menutup selat Bab al-Mandab di Laut Merah dan memblok kapal-kapal dari negara yang bersekutu dengan AS dan Israel.
Anggota politbiro Houthi, Mohammed al-Bukhaiti, mengatakan, bahwa penutupan akan terbatas pada kapal-kapal yang terkait dengan agresi terhadap Iran, Lebanon, Palestina, atau Irak.
Houthi saat ini tengah menimbang beberapa langkah untuk membantu Iran di tengah berkecamuknya perang di Timur Tengah. Selat Bab Al-Mandab dikenal sebagai satu jalur perlintasan strategis khususnya untuk perdagangan minyak dan gas, yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden
Sejak perang Iran melawan AS-Israel pecah akhir bulan lalu, Houthi hingga kini membatasi diri mereka dengan hanya menebar ancaman dan melakukan persiapan. Sementara, kelompok lain dari 'poros perlawanan' seperti Hizbullah dan militan di Irak telah melancarkan serangan-serangan terhadap aset-aset Israel dan AS sebagai solidaritas terhadap Iran.
Berbicara terpisah, pemimpin Houthi, Abdul-Malik al-Houthi dikutip Anadolu, mengatakan, bahwa Houthi siap bertindak dan dalam koordinasi dengan Iran. Ia juga menyinggung peluang memblok Bab al-Mandab sebagai opsi kunci dukungan terhadap Teheran dan tekanan untuk Barat.
Jika Houthi memblok Selat Bab al-Mandab, kapal-kapal tanker dari Asia menuju Eropa akan terpaksa mengambil rute yang lebih jauh yakni harus lebih dulu mengitari sebagian benua Afrika. Akibatnya, ongkos pengiriman minyak akan meningkat, lalu terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak dan berujung pada inflasi di seluruh dunia.
Selama masa genosida Israel di Gaza sejak Oktober 2023, Houthi telah berulang kali menyerang kapal-kapal terafiliasi zionis dan AS di Laut Merah dengan rudal dan drone. Sebagai response, Houthi mengalami serangan udara dari AS dan Israel yang menargetkan depot-depot rudal mereka di pelabuhan Yaman.
Pada 28 Februari, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, termasuk Teheran, sehingga menimbulkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa. Iran lantas melakukan serangan balasan terhadap wilayah Israel dan pangkalan militer AS di se-antero Timur Tengah.
Eskalasi yang terjadi di Iran kemudian memicu blokade "de facto" Iran atas Selat Hormuz, sebuah jalur pelayaran yang penting bagi pengiriman minyak dan gas LPG dari negara-negara di Teluk Persia ke pasar dunia. Gangguan pelayaran tersebut juga berdampak pada tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan Teluk.
Tingkat produksi minyak di seantero kawasan Teluk Persia anjlok hingga hampir 7 juta barel per hari (bpd) karena krisis di Selat Hormuz, demikian menurut lembaga kajian perminyakan Argus. Argus menyampaikan bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Bahrain telah mengikuti langkah Irak dan Kuwait dalam membatasi produksi karena tidak bisa melanjutkan ekspor akibat penutupan Selat Hormuz.
Pembatasan produksi harus dilakukan mengingat fasilitas penyimpanan minyak yang ada terisi penuh semua dalam waktu singkat. Karena hal tersebut, negara-negara Teluk mengurangi produksi minyak mereka sebesar 6,2 hingga 6,9 juta bpd dibandingkan tingkat produksi Februari, kata Argus.(*)