BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Dimulai April, Diawali dari Nusa Tenggara

Rabu, 04 Maret 2026 | 23:16:07 WIB
Republika/Thoudy BadaiPerkeja melindungi tubuh dari terik matahari menggunakan payung saat berjalan di kawasan Sudirman, Jakarta, Senin (18/12/2023). Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah daerah di Indonesia akan memasuki mus

Jakarta, sorotkabar.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah daerah di Indonesia akan memasuki musim kemarau mulai April 2026.

 Musim kemarau diawali di Nusa Tenggara dan secara bertahap dialami di wilayah lain.

"Awal musim kemarau, sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi masuk musim kemarau pada periode April, yaitu ada 114 zona musim atau sekitar 16,3 persen dari seluruh zona musim yang ada di Indonesia, sebanyak 699," kata Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam konferensi pers di Kantor BMKG, Jakarta, Rabu (4/3/2026).

Kemudian, katanya, pada Mei 2026 terdapat 184 zona musim dan pada Juni 2026 sebanyak 163 zona musim yang akan memasuki musim kemarau.

"Nantinya diawali dari wilayah Nusa Tenggara dengan bergerak ke barat secara bertahap ke wilayah Indonesia lainnya," katanya.

Tidak hanya itu, dia memperingatkan durasi musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia yang berada di 400 zona musim akan berlangsung lebih panjang dibandingkan normal.

Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli 2026 untuk sebagian Sumatera, Kalimantan bagian tengah dan utara, sebagian kecil Jawa, sebagian kecil Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, Sulawesi Utara bagian barat, sebagian kecil Maluku, Papua Barat bagian tengah, dan Papua bagian timur.

Wilayah yang mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026 adalah Sumatera bagian tengah dan selatan, Jawa bagian tengah hingga timur, sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, sebagian Maluku, Maluku Utara, serta Pulau Papua.

Sementara itu, BMKG memprakirakan daerah yang mengalami puncak musim kemarau pada September 2026, yaitu sebagian Lampung, sebagian kecil Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian utara dan timur, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan sebagian kecil Pulau Papua.

Sebelumnya, BMKG mengidentifikasi kemunculan tiga bibit siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia yang berpotensi memicu cuaca ekstrem berupa peningkatan curah hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi di sejumlah provinsi dalam beberapa hari ke depan. Faisal Fathani menjelaskan berdasarkan pemantauan hingga Selasa (3/3/2026) pukul 07.00 WIB ada tiga sistem siklon yang aktif yakni Bibit Siklon Tropis 90S di Samudra Hindia selatan Banten-Jawa Barat, Bibit Siklon Tropis 93S di barat laut daratan Australia, serta Bibit Siklon Tropis 92P di Teluk Carpentaria sebelah selatan Papua Selatan.

“Kami memantau pergerakan ketiga bibit siklon ini secara intensif selama 24 jam penuh. Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak tidak langsungnya, seperti genangan atau angin kencang. Pastikan hanya merujuk pada kanal resmi BMKG untuk menghindari informasi yang tidak benar,” kata dia.

Sementara itu Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani menambahkan berdasarkan analisis terkini Bibit Siklon Tropis 90S memiliki peluang tinggi untuk berkembang menjadi siklon tropis dalam 24-48 jam ke depan.

Adapun Bibit Siklon Tropis 93S dan 92P memiliki peluang rendah untuk berkembang, namun secara keseluruhan tetap memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan Indonesia.

Menurut Andri, kemunculan ketiga bibit siklon tersebut meningkatkan gradien tekanan udara yang memperkuat kecepatan angin permukaan serta memicu pemusatan massa udara.

Kondisi itu diperkuat oleh suhu muka laut yang hangat di perairan selatan dan timur Indonesia serta terbentuknya area pertemuan angin atau konfluensi di sepanjang Bali hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dampak dari aktifnya dinamika atmosfer itu antara lain potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, dan NTT.

Selain itu terdapat potensi angin kencang di Bali, DI Yogyakarta, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Maluku, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, serta pesisir selatan Papua Selatan.

Dengan begitu BMKG mengimbau masyarakat dan pemangku kepentingan di wilayah terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan cuaca ekstrem dalam beberapa hari ke depan.(*) 
 

Terkini