Jakarta,sorotkabar.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak naik. Harga BBM Pertalite tetap Rp10.000 per liter di tengah konflik Timur Tengah yang mengerek harga minyak dunia.
Bahlil menjelaskan, hanya minyak dunia dalam asumsi APBN sebesar USD70 per barel. Sementara harga minyak dunia sendiri saat ini harganya sudah melonjak ke level USD80-81 per barel atau melampaui target. Namun selisih harga tersebut akan ditanggung oleh APBN agar harga jual di pasar untuk produk BBM subsidi tidak naik.
"Untuk harga BBM subsidi, saya pastikan bahwa sampai dengan hari raya tidak ada kenaikan apa-apa. Kami sudah melakukan rapat dengan Dewan Energi Nasional (DEN), dan kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Lebaran," ujar Bahlil di Istana Negara Jakarta, Rabu (4/3/2026).
Namun demikian, Bahlil mengatakan untuk BBM jenis non subsidi diperkirakan akan tetap mengikuti fluktuasi harga minyak dunia. Naik atau turun harga minyak mentah dunia akan membentuk harga BBM non subsidi di pasar.
"Sekalipun ada terjadi kenaikan harga minyak akibat perang Israel, Amerika, dan Iran, tetapi kalau untuk harga BBM yang non subsidi itu memang mekanisme pasar," lanjutnya.
Bahlil memastikan ketersediaan stok BBM maupun LPG yang cenderung mengalami peningkatan saat periode lebaran akan terpenuhi optimal. Bahkan ketersediaan stok energi di dalam negeri diperkirakan mampu sampai 21 hari ke depan. Ia mengakui, dampak konflik yang terjadi antara Amerika Serikat dan Israel-Iran menyeret pada harga dan pasokan yang terhambat.
"Memang sejak dahulu, sudah sejak lama, bahwa kemampuan storage kita, daya tampung BBM kita, ini tidak lebih dari 21 hari sampai 25 hari. Itu kemampuan kita," tambah Bahlil.
Sebelumnya Bahlil mengaku tengah melakukan penghitungan ulang alokasi anggaran subsidi energi di tengah konflik yang terjadi. Mengingat dampak penutupan selat Hormuz juga menyebabkan Pemerintah mengalihkan impor yang sebelumnya dari Timur Tengah ke Amerika Serikat, sehingga impor tersebut tidak melalui jalur pengiriman Selat Hormuz.
Bahlil mengatakan, akan melakukan pengalihan impor untuk minyak mentah dan LPG dari Timur Tengah karena penutupan Selat Hormuz. Sekitar 25 persen total impor Indonesia akan dialihkan dari Timur Tengah ke Amerika Serikat.
"Setelah tadi kita detailing, total impor crude kita dari Middle East itu kurang lebih sekitar 20-25 persen. Skenario nya adalah, sekarang ini untuk crude yang kita ambil dari Middle East sebagian kita alihkan untuk ambil di Amerika," kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3).
Sementara untuk LPG, Bahlil menjelaskan 30 persen impor LPG Indonesia masih didatangkan dari Timur Tengah. Porsi tersebut akan di datangkan dari negara selain timur tengah untuk memenuhi pasokan LPG nasional.
"LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun, dan tahun ini naik menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persen sekarang kita ambil dari Amerika. Alternatifnya adalah kita switch lagi supaya kita tidak mau ambil resiko, sebagiannya kita switch lagi untuk kita belanja di negara yang tidak ada kaitannya dengan selat Hormuz," pungkasnya.(*)